TERUSLAH MENULIS SELAMA KITA MASIH BISA MENULIS

"TERUSLAH MENULIS SELAMA KITA MASIH BISA MENULIS"
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 September 2011

CURAHAN HATI NUNIL [MPK]


1307807964525103969
Senja telah mulai sirna ketika udarapun tidak begitu bersahabat. Hujan turun dari mulai rintik-rintik hingga menjadi lebat bercampur badai. Mencekam sekali rasanya, apalagi listrik padam pada saat itu. Sehingga dapat dibayangkan betapa gelapnya keadaan desa Rangkat malam itu. Dan cukup lama keadaan tersebut baru mulai berbeda. Setelah hujan agak reda, Nunil mengambil HP nya lalu langsung menghubungi seseorang yang sudah lama sekali tidak pernah ia temui.
“Hallo… !”
“Ya, hallo…… !”
“Assalamu’alakum”
“Waalaikumsalam…..”
“Bisa bicara dengan Edri ?”
“Ya, saya sendiri !”
“Hey, Dri! Aku Nunil masih ingat ?”
“Hey, kamu rupanya ! Tumben baru telepon lagi ? Apa kabarnya nih ?”
“Baik-baik Dri, kamu bagaimana ?”
“Sama, cuma sedikit pusing karena cuaca agak buruk ya ? Ada kabar apa nih?”
“Dri, malam ini kamu sibuk nggak?”
“Nggak tuh, kenapa?”
“Bisa terima pengaduan nggak?”
Edri tertawa mendengarnya. Ia jadi teringat kalau sahabatnya yang satu ini - Nunil - memang selalu suka meminjam istilah-istilah lucu. Seperti pengaduan tadi misalnya. Pengaduan bagi Nunil artinya bahwa dia lagi punya uneg-uneg yang akan dibaginya dengan Edri.
“Bisa, glek saja langsung !”
Nunil gantian ketawa. Ia merasa cukup terhibur. Setelah seharian tadi kepalanya mumet dan merasa nyaris pecah gara-gara pertempuran dengan Adi, cowoknya.
“Begini Dri, kayanya aku nggak bisa langgeng sama Adi …..”
Nunil mulai melaporkan pengaduannya. Lalu ceritanya segara meluncur seperti sebuah cerpen.
****************
“Kalau mau bubaran, ya bubar saja Mas ! Kita nggak usah bertele-tele”.
Siang itu kemarahan Nunil sudah sampai ke ubun-ubun. Ditendangnya batu kecil yang ada di jalanan yang dilewatinya berdua Adi.
“Kamu itu bicara apa ?”
“Bicarain kita, Mas kira sekuat apa aku menahan kesal yang sudah menumpuk sejak lama ?”
“Kamu kesal sama saya ?”
“Sama semuanya ! Tapi yang penting sama kelakuan Mas. Mas selalu mau menang sendiri.
Selalu menyalahkan aku, sementara kalau Mas yang salah, Mas nggak merasa bersalah. Seolah-olah Mas nggak pernah bersalah terhadapku”. Adi mengerutkan keningnya.
“Bisa kamu sebutkan ?”
“Bisa, banyak sekali !”, sambar Nunil cepat
“Yang paling gres seminggu yang lalu. Mas menyalahkan aku ketika aku pergi dengan teman-temanku dan melarang aku untuk pergi dengan orang lain ! Sementara kemarin, Mas ngobrol sama cewek dengan seenaknya. Seolah-olah aku dianggap nggak ada”.
“Kapan ? Saya nggak merasa seperti yang kamu tuduhkan ! Sayang saya tak berkurang kan ? Kamu saja yang lagi senang marahin saya !”
“Aku nggak mau dengar rayuan Mas lagi, pokoknya aku ingin kita bubaran !”
“Lho ! Itu kan maumu, keinginan sepihak. Berarti kamu memaksa saya ?”
“Pokoknya bubar !”
“Nunil, kita kan sudah lama bersama. Hampir satu setengah tahun. Bukan saatnya lagi kita ribut-ribut kayak begini dan ingin bubar lagi. Pasti ada solusinya, kita bisa bicarakan baik-baik”.
“Justru karena sudah lama aku sudah mencoba berdiam diri, biar Mas merasa. Tapi nyatanya Mas masih nggak mengerti juga !”.
“Kamu marah, Nil ?”
“Marah sekali !”
****************
“Terus, terus ……..”, Edri mendengarkan cerita Nunil dengan tekun. Cewek memang suka begitu kalau marah ledakannya sungguh hebat !
“Terus, terus. Memangnya cerita bersambung ?”, Nunil kesal. “Kayaknya kamu lagi nanggapin aku deh, Dri”.
“Bukan begitu, Nil. Kalau kamu ceritakan semuanya nanti bisa plong. Aku kan cuma ingin kamu baik-baik saja”.
“Aku baik-baik aja, koq. Sudah lega dan senang bisa cerita sama kamu. Ya, begitu deh, kalau pacaran sama Adi. Dia mau menang sendiri. Adi itu merasa benar terus. Semua cowok sifatnya begitu, ya ?”
“Nil ….”, Edri mengingatkan. “Aku juga cowok, lho.”
“Sorry, deh ! Soalnya si Adi menyebalkan sih….”
“Kamu itu mestinya membuat kepalamu dingin dulu, Nil. Jangan memutuskan sesuatu dengan keadaan emosi. Hasilnya pasti kurang baik”.
“O, iya ?”
“Iya, coba deh tenang dulu. Kalau besok atau nanti ketemu Adi, bicara baik-baik. Kamu pikirkan yang lebih dalam lagi”.
****************
Keesokan harinya dengan berbekal nasehat dari Edri, Nunil pergi untuk menemui Adi dengan hati yang senang. Maksudnya, dia berusaha mengusir rasa sebal dan segala sumpah serapahnya buat Adi. Nunil sengaja tidak menghubungi Adi lewat HP nya.
Namun setelah tiba di rumahnya Adi, ternyata dia belum pulang sejak kemarin. Ia pergi entah kemana. Dihubungi lewat HP pun tidak ada jawaban. Dengan perasaan kecewa Nunil menitipkan pesannya. Dia berusaha habis-habisan untuk bertemu Adi. Sejam, dua jam, sehari, tiga hari dan berikutnya hanyalah harapan dan penantian yang tak berujung. Akhirnya Nunil mulai kesal karena tidak ada kabar tentang Adi.
“Aku jadi nggak sabaran deh, Dri. Diharapkan ada, malah nggak ada. Dikangenin malah nggak mau tahu. Aku benar-benar kesal, nih !”
“Wah, kamu saja yang suka emosi, Nil. Mungkin dia sedang sibuk atau kamu hanya selisih jalan sama dia”.
“Nggak mungkin, Dri. Aku sudah ke rumahnya, koq. Barangkali dia menghindar dari aku, ya !”
“Tuh, kan mulai lagi deh kamu berprasangka buruk. Itu nggak baik”.
“Soalnya Adi dikangenin nggak mau. Kamu tahu aku kan ? Kalau aku rindu dan orang yang aku rindu nggak ada, aku selalu mengubur rinduku itu. Makin lama waktunya lewat, akau makin nggak mau membicarakannya lagi. Aku anggap sudah nggak ada rindu lagi”.
“Kamu harus makin sering menyabarkan hatimu, Nil. Orang sabar itu selalu dikasihani Allah…..”.
****************
Adi datang ke rumah Nunil seminggu kemudian, setelah Nunil menelepon Edri. Saat itu perasaan Nunil kepada Adi biasa-biasa saja. Dia tidak kesal, dan tidak kangen kepada Adi. Perasaannya sungguh aneh, karena semuanya seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Biasa saja. Sangat datar.
“Kamu nggak kangen saya, Nil ?”
“Sudah nggak, tuh !”
“Koq, bisa begitu ?”
“Entah, ya. Itu diluar kehendakku”
“Oh, Nunilku. Kamu pasti masih mendidik marah pada saya, ya ?”
“Nggak tuh !”
“Saya kangen kamu, Nil ! Saya sayang kamu” Lalu Adi menggandeng tangan Nunil. Cepat-cepat Nunil menepiskan tangan kokoh itu.
“Aku tahu…” Malam harinya Nunil menelepon Edri lagi.
“Bayangkan, Dri…. Aku sudah nggak punya kangen lagi. Pun ketika ia muncul di depanku. Boro-boro kangen, digandeng saja aku nggak mau !”
“Kamu nggak boleh begitu, Nil. Kamu terlalu dihantui oleh perasaan kamu sendiri. Koq, sulit amat buat memaafkan kesalahan orang. Coba pikirkan lagi deh. Adi kan bukan orang lain buat kamu”.
“Justru itu ! Aku nggak enak dong, kalau cuma pura-pura sayang sama dia”.
“Cuma karena begitu, kamu jadi nggak sayang lagi ?”
“Pokoknya aku telah kehilangan segala rasa sayangku pada Adi, Dri. Aku sudah lelah…”.
Hening di seberang sana. Edri menunggu kelanjutan pembicaraan Nunil.
“Edri, apa benar ya, kalau kita kehilangan rasa kangen itu artinya kita sudah nggak sayang lagi sama orang yang kita cintai ?”
“Entah ya, Nil. Aku kan belum pernah mengalami seperti kamu itu”.
“Aku telah membohongi Adi, Dri. Sebenarnya sudah lama rasa sayangku itu habis. Sejak dia mulai tidak memperdulikan aku lagi”.
“Nunil, apapun yang akan kamu putuskan, kamu harus yakin benar akan semua tindakan itu, nggak cuma karena emosi. Itu saja. Rasanya aku sudah pernah bilang tentang hal ini kan ?”
“Sudah, terima kasih ya, Dri”.
****************
Nunil baru saja tiba di rumahnya. Ia tampak lusuh setelah seharian penuh pergi ke kampus membantu persiapan lomba penulisan prosa disana. Gadis berambut pendek itu langsung ke kamarnya dan membaringkan dirinya di atas kasur. Ada sesuatu yang lebih melelahkan dirinya selain karena melaksanakan tugas kepanitiaan. Dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja Nunil bertemu Adi sedang berduaan dengan wanita lain. Tapi disaat itu ia sudah benar-benar tidak merasakan kecewa lagi. Namun hatinya seperti telah merasakan kelelahan yang amat dahsyat, sehingga ia langsung terlelap tanpa sadar tidak seperti biasanya. Lama Nunil tertidur hingga ia terjaga ketika mendengar suara dering HP nya.
“Selamat malam……..”, Nunil menyapa.
“Malam, Nunil…”
“Oh, kamu Mas”, Nunil segera mengenali suara Adi di seberang sana.
“Ada apa ?”
“Saya ingin menjelaskan kejadian siang tadi”
“Ah, nggak perlu koq, Mas. Semuanya sudah jelas bagiku……”
“Dengar dulu, Nil……”
“Nggak mau, aku tahu pasti Mas akan bilang adalah sulit bagi seseorang buat mengubah pandangannya tentang sesuatu yang sudah biasa dialaminya. Aku kenal betul siapa Mas !”
“Nunil…..”
“Biar kamu tahu, Mas ! Aku sejak dari awal sayang sama Mas, tapi bukan dengan kelakuanmu yang tidak terpuji itu”
Kata Nunil tegas sambil menahan gejolak emosinya.
“Saya tahu”, Adi menghela napasnya. “Maafkan saya, Nil. Kalau cemburu saya sudah kelewatan. Dan kelakuan saya yang menurutmu tidak adil terhadapmu”
Nunil diam sejenak. Dia harus tegas dalam mengambil keputusan.
“Sekarang saya mengerti semuanya, Nil”, Adi mencoba sabar. “Bagaimana kalau kita coba lagi, Nil ?”
“Nggak perlu. Aku sudah lelah”, Nunil memegang dahinya. “Aku sudah terlalu lelah. Aku ingin semuanya berakhir………”.
Tanpa menunggu kalimat Adi, Nunil memutuskan hubungan teleponnya. Tak lama kemudian, ia menghubungi Edri.
“Ternyata aku benar, Dri. Aku langsung kehilangan kangen, itu berarti aku sudah nggak sayang lagi sama orang yang seharusnya aku kangenin………”
“Kamu ngomong apa sih, Nil….. ?”
“Aku sudah resmi bubaran sama Adi barusan, Dri. Besok aku telepon kamu lagi ya ? Sekarang aku sangat lelah…..”.
“Halo, halo…….”, Edri masih memanggil-manggil waktu Nunil buru-buru mematikan HP nya.
****************
Geliat cinta dua antara insan.
Terkadang senyap dan sesekali mejulangi
Mengangkasa hingga tak dapat diraih lagi
Semua ada karena kebersamaan
Cinta yang jauh di ujung sana
Menanti dan mengharap pertemuannya
Dalam gelisah tiada tara
Meski batin tak bisa mengikat diantara keduanya
Suatu ketika cinta itu ternoda
Walau tiada kotoran yang merajahnya
Semua terjadi karena salah yang tipis saja
Hingga akhirnya menghapus rasa yang ada
Saat ini kebersamaan itu telah terganti
Rasa cinta yang selalu terobati
Karena ada dan selalu menemani
Dalam setiap resah dan gelisah yang merajahi
****************
Saat ini, disebuah taman yang indah terlihat dua sosok remaja yang sedang bercerita. Mereka terlihat senang bercengkrama. Kebahagiaan itu terpancar dari kedua senyumnya yang senantiasa saling membalas. Indah ditemani kupu kupu yang terbang diantara bunga-bunga yang berwarna-warni.
Hijau dedaunan dan rumput disekitarnya. Melengkapi perasaan mereka yang baru tumbuh dan semakin memperkuat akar akarnya. Karena cinta diantara keduanya berawal dari akar persahabatan yang sejak lama bersarang. Mereka kini menyirami akar itu dengan perasaan cinta dan kasih sayang.
Kedua sejoli tersebut duduk ditaman saling berhadapan. Mereka saling berucap janji untuk selalu menjaga cinta diantara keduanya. Karena mereka telah memahami kelemahan dan kekurangan masing-masing. Mereka berjanji untuk saling melengkapi. Sebagai pasangan kekasih.-
*********O*********
Penulis : R-82 & Edy Priyatna   Nomor peserta: 228
NB : Untuk membaca hasil karya para peserta Malam Prosa Kolaborasi yang lain maka dipersilahkan berkunjung ke sini : Hasil Karya Malam Prosa Kolaborasi.

(Ilustrasi by Google)

PERINGATAN HARI KEBANGKITAN NASIONAL KE-103 DI DESA RANGKAT [HARKITNAS-RANGKAT]


Pada hari ini tanggal 20 Mei 2011, semua warga Desa rangkat berkumpul di halaman Balai Desa. Mereka yang berkumpul adalah : Yayok : Kepala Desa Rangkat yang berkumis tebal, Mommy : Bu Kades yang nyambi ngereditin barang-barang (katanya buat nyari tambahan), Jingga : Anak gadis Pak kades yang genit dan manja, Uleng Tepu : Anak Pak Kades yg anggun bersahaja, Deasy : Adik bu Kades, sering dipanggil auntie jutex. Suka hal-hal yang menegangkan, Ade Supriadi : Ki Bodo Ade, Pemilik Klinik Cinta Rangkat. Awalnya sih tukang servis senter, Agus Setyono : Tukang Kritik dan tukang kripik, Alfian Noor Jr : Penjaga Gunung Naras alias Kuncen, Andee Meridian : si anak pungut,Andi Haryanto : Pesinggah yang setia, Ani Rhamadhani : Janda muda yang cantik, Anjartys Siska : Wanita Karier, Annisa F Rangkuti : Katanya mau jadi pohon yang cantik aja, Arif : Adiknya pak kades ( Petani yang malu kalau miskin ), Arifin Basyir : Tukang ngurus sapi, Armidin Rihad : Dokter Desa,Arra : Dukun Spesialis Cinta, Asih Suwarsy : Kakaknya Sekdes Acik. Istrinya Juragan Kepiting Soka,Aslan Z : Pengusaha kelapa sawit, Asraf Al Amri : Rakyat biasa saja, Astoko Datu : Kakek Tua yang bijaksana /perantara antar generasi, Azzallealislin : Anak ABG yang jago joget, Bahagia Arbi : Pemuda desa yg menawan, Bain Saptaman : sepeda onthel saja, Bambank : Pemuda dengan status tidak jelas, Bening : wartawati gosip merangkap MC, Budi Van Boil : Tukang Samak dan relawan pulsa,Candra : Pemuda romantic, Citria Nilam Asri : Instruktur senam aerobic, David hehehehe), Depe Kecil: Bocah cilik Rangkat yang hobi main bola (katanya sih kalau besar mau kayak Be Pe), Devi Purnama : Bunda yang tegar yang kuat jalan kemana-kemana, Dewi Solihat : Sang Dewi duta Parawista desa Rangkat, Dewi Wahyu ( Dewa) : Tukang Obat 8 dewa, lagi ikutan belajar mijit sama jeng Pemi, Didi Santoso : Pengamat Desa, Dorma : Hansip cewek yang hobi ngemil, Dudi Rustandi : Pekerja Rental dan Buka Klinik Tulisan, D-wee : Tukang Service gigi, keponakannya Nyimas Herda, Dwi Ayu Prihandini : si gadis ayu, Dyah Dizty Kanya Restyani : Petugas Perpustakaan Desa, Edi Siswoyo : Ki Dalang yang punya padepokan wayang Rangkat. Kadang-kadang nerima orderan ngedit foto, Edy Priyatna (Edy Nawir) : RW yang Rajin berWacana dan tukang buat sajak juga (hehe…bisa ajah nih….manstaf), Elvaretta / Perawan Alas : Neng Acik, Sekdes yang mondar-mandir bawa stempel. Hobi nya main ke hutan, Esp 24 : Bocah ingusan, sekaligus juragan Kepiting Soka. (Dalam cerita sekalian jadi suaminya Asih Suwarsy), Ferry Ananto : Pemuda yang datang dari kota, kerasan tinggal di Rangkat,Fitri y Yeye : penulis yang konsisten, Ghara Melati : Dara desa yang yang cantik, Granito Ibrahim : Pemuda berbakat, Herlia Annis : Janda genit penjual gado gado, Hikmat : Pemuda Masjid , teknisi komputer, nyambi jadi petugas arsip desa (masih honor sih… hehehe), Hm Zwan : Penyiar Rangkat TV sekaligus ketua Karang Taruna. Hobinya bertualang kayak si Bolang, Ibay : Ketua RT, punya usaha sampingan warung pojok Lebay, Indri : Provokator yang bertobat jadi tukang urus sapi. Tapi kadang-kadang masih suka tergoda, Indriati see : Wanita romantis aja. Kadang-kadang jadi pemandu turis di Rangkat, Inge : Gadis desa yg suka ngakak ( Tertawanya bisa menggetarkan seluruh Desa ), Inin Nastiin : Petani kebun Pisang berkwalitas ekspor, Ita Fiane : Tukang salon keliling, Jean Rachman : Wanita yang penuh cinta, Jennifer Chia : Pemilik salon kecantikan, Joe amatir : Tokoh antagonis,Joko Erdhianto : Tukang becak serba gratis, Kate Raj : Pemuda kota yang sedang mencari ketenangan, Khussy alfarisi : Ibu muda yang ngebet pergi ke India…hehehe, Kine : Kembang Desa yang suka kembang gula, Lala Sangkak : Pelukis sekaligus Pujangga jebolan Rangkat ( Sekalian jadi Play boy desa, maunya sih…), Leak Barak : Casper, Lovely Day : perannya lagi dipikirin, Mbak Yuli : Guru SMP merangkap guru ngaji, Medio Baya : Mantan Foto model, Michael Gunadi : Pemetik Dawai,Mimin Mumet : Gadis Cantik ceriwis yang suka mumet, Miss Rochma : Bu Guru Desa yang teladan,Moko Agung : Petani yang ogah miskin, Moussycha : Sementara jadi wanita tetangganya mas Lala dulu deh ya, Nades Medan : Penyair budiman, saudaranya Sudirman, Nardata Antonius : Pak Guru segala ilmu, Neng Reva : Istri setia yg mempunyai anak 2… ( mungkin nanti nambah ) hehe…,Ningwang D Agustin : Janda Kembang (masih??? Soalnya di ECR-2 belum juga ada yang berhasil ngedapetin), Noorhani laksmi : Wanita keibuan dan juga kebapakan, Nuraziz : Boss kios kopi ‘gedebak’, Nursetiono : Pesinggah dalam perjalanan keliling dunia, Nyimas Herda: Ibu pemilik usaha Warnet Murah banget. Kalau lagi sepi nerima order jasa pengetikan juga, Odi Salahudin : Guru merangkai kata dan merangkai bunga, Princess Diary : Kanjeng putri yang suka makan kecapi,Princess Lina : Bundanya Itsvan, Ranti Tirta : Gadis Desa Berpayung Merah, Refo : Lelaki Hujan / Penulis puisi sang Rajawali, Relly : Musafir pengelana, Rena Anak Kost : Calon Artis ibu kota/anak angkat Kades, Reynando : Penyair jalanan yang rada gila…… hehehe… (Bareng sama HM Zwan jadi ketua Karang Taruna Rangkat), Rhamdani Nur : Tukang parkir merangkap boss becak, Rizal Falih : Repot-ter Rangkat TV yang suka repot-repot sendiri. Katanya sekalian sebagai pemilik Rangkat TV. Pengusaha kali yah, maksudnya, Roni Syaroni : Arjuna pencari cinta, Selsa : Ibu RT, sekaligus emaknya mas onthel ( Koq mau ya..? hehe…) Punya peliharaan Ayam kampung 15 ekor, Shabrina Shellby : Tukang Pijit Keliling yang punya kebun Jagung di luar negeri. Lagi belajar jadi Peramal juga,Siti Palembang: Gadis Muslimah yang audisi mencari jodoh, Suri Nathalia : Anak kecil yg suka main layangan ke Desa Rangkat, Syamsinar : Anak SD kelas 1 yang lagi belajar baca tulis dan tersesat di desa rangkat, Thamrin Dahlan : Pembina Hansip yang suka sidak. Sidaknya nggak bilang-bilang lagi. (ya iyalah… namanya juga Sidak…), Titiek Wartika : Sinden, Topan Ripan : Gembala Sapi yang jago karate, Triana : Sekertaris Desa, Triansjah PJ : Komandan Hansip yang punya pentungan keramat. Kadang-kadang nyambi jadi tukang jualan kompor, Tyas Djokovic : Penyanyi Rock, Ve : Pengusaha Furniture yang berhasil, Wahyudi Ferry : Tukang servis keliling, dan Yuliani Telo : Keponakannya mas Repotter, serta warga desa yang lainnya.

Disana mereka melaksanakan upacara memperingati Harkitnas ke 103 yang dipimpin langsung oleh Bapak Kades Yayok selaku Inspektur Upacara dan dengan Komandan upacara Ade Supriadi.

Setelah mereka membentuk formasi barisan yang sangat rapih, upacara tersebut dimulai dengan pembawa acara Fitri y Yeye membacakan agenda acara pertama, Laporan Komandan Upacara bahwa upacara siap dilaksanakan, lalu Inspektur Upacara memerintahkan untuk segera dilaksanakan. Kemudian acara dilanjutkan dengan Pengibaran Bendera Merah Putih yang dilaksanakan oleh Paskibra Desa Rangkat yaitu : Dorma, Perawan Alas, Ghara Melati, Ningwang D Agustin, Ferry Ananto, Refo, Roni Syahroni, Thamrin Dahlan dan Wahyudi Ferry. Pada saat pengibaran bendera tersebut seluruh warga desa Rangkat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipimpin oleh Jingga.

Selanjutnya Reynando ditugaskan untuk membaca ikrar pemuda yang diikuti oleh peserta upacara. Dan sebagai acara puncak dalam upacara tersebut adalah Sambutan atau Pidato Harkitnas oleh Inspektur Upacara selaku Bapak Kepala Desa Rangkat. Pak Kades langsung naik podium setelah pembawa acara mempersilahkannya, lalu mulailah beliau berpidato…………..


Kepada Yth
Para Ketua RW dan Ketua RT Desa Rangkat
Para Pemuka Masyarakat Desa Rangkat
Para Pengurus Koperasi di Desa Rangkat
Seluruh warga Desa Rangkat yang kami cintai……..

Assalamualaikum wr. wb
Pada hari ini kita berkumpul disini adalah dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang ke 103. Sesuai dengan thema Melalui Harkitnas Ke 103 Kita Tingkatkan Semangat Kebangsaan Dalam Keanekaragaman Latar Belakang Dan Budaya Bangsa. Desa rangkat adalah salah satu semangat kebangsaan itu.


Hadirin sekalian yang berbahagia
Sudah 103 tahun telah kita lalui sejak ditetapkannya tangal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Nilai-nilai Kebangkitan Nasional yang diperjuangkan para pendahulu kita telah menjadi perekat jalinan persatuan dan kesatuan diantara kekuatan dan komponen bangsa. Ia telah memberi semangat untuk melepaskan diri dari penjajahan, mengejar ketertinggalan dan membebaskan diri dari keterbelakangan. Nilai-nilai tersebut menjadi dasar perjuangan para pemuda yang kemudian pada tanggal 20 Mei 1908 terorganisasi dalam wadah pergerakan bernama ‘Boedi Oetomo’. Dari sinilah kemudian semangat nilai-nilai persatuan dan kesatuan ini semakin mengkristal dan menjadi kekuatan moral bangsa sebagaimana tertuang dalam ikrar ‘Soempah Pemoeda’, pada tanggal 28 Oktober 1928. Perjuangan panjang yang ditempuh oleh bangsa Indonesia tersebut, akhirnya kita capai dengan memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 sebagai bangsa yang Merdeka dari penjajahan.

Kita sebagai Bangsa Indonesia telah bersepakat bahwa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang diperoleh melalui perjuangan panjang tersebut harus tetap dipertahankan, dipelihara dan dijaga. Dalam kurun waktu 66 tahun perjalanannya, berbagai ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan masih saja terjadi. Beberapa tahun terakhir ini bangsa kita dilanda dengan berbagai cobaan berupa bencana alam sebagai akibat atau pengaruh perubahan lingkungan global yang menyebabkan kerusakan di berbagai sektor kehidupan kita, bahkan menimbulkan korban jiwa dan harta benda yang besar. Dengan memperhatikan perkembangan dan kecenderungan fenomena bangsa tersebut, maka semangat dan jiwa Kebangkitan Nasional menjadi penting untuk terus tetap digelorakan dalam setiap individu Warga Negara Indonesia, agar tetap waspada dalam rangka menjaga keutuhan kita sebagai sebuah bangsa yang besar dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Hadirin sekalian yang berbahagia
Bangsa yang besar adalah bangsa yang siap menghadapi tantangan dan berhasil bangkit dari permasalahan yang dihadapinya. Seperti bangsa kita saat ini yang telah melampaui beberapa etape penting yang telah kita lalui. Akhirnya menjadikan kita menjadi bangsa yang tampak kokoh, tegar dan tidak mudah menyerah.

Kita harus bersyukur karena berkesempatan untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Bangsa kita telah melalui beberapa ujian dan pada akhirnya menjadikan kita sebagai bangsa yang tidak mudah menyerah dan menjadi bangsa yang kokoh. Untuk dapat melaksanakan peran dan tugasnya dengan baik bagi bangsa dan negara kita. Anak-anak adalah generasi bangsa yang akan meneruskan perjalanan bangsa ini. Kepada seluruh rakyat mengajak kepada segenap elemen masyarakat untuk bersyukur bahwa kita masih diberi kesempatan untuk terus membangun bangsa ini untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan serta kemakmuran. Yang perlu diingat apa yang kita nikmati saat ini adalah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT dan merupakan hasil kerja keras, tetes keringat dan darah para pendahulu kita.

Dalam kesempatan peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke 103 ini bangkit di Desa Rangkat adalah bukan hanya bangkit fisik yang tampak baik itu seperti infrastruktur yang sedang kita bangun saat ini. Akan tetapi esensi bangkit itu sendiri adalah membangkitkan jiwa dan semangat kita untuk bangkit dari keterpurukan yang telah kita alami.


Hadirin sekalian yang berbahagia
Pada tahun 1908 kebangkitan yang diutarakan oleh bangsa kita adalah dengan berani menyatakan kedaulatan bagi bangsa kita. Dengan berani menyatakan identitas sebagai bangsa, suku dan bahasa . Dan pada tahun 1945 bangsa kita telah bertekad untuk menyelenggarakan pemerintahan yang berdaulat untuk bebas dari belenggu penjajahan. Dari semua itu kita terus menggelorakan semangat kebangkitan yang berlanjut sampai dengan masa sekarang, dimana bentuk demokratis adalah yang harus bisa dipertanggungjawabkan dihadapan hukum dan rakyat. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak mudah menyerah.


Hadirin Peserta Upacara Desa Rangkat yang berbahagia
Peringatan Harkitnas tahun 2011 ini akan kita jadikan sebagai sebuah momentum untuk memasuki abad ke-2 Kebangkitan Nasional. Momentum ini ditandai dengan berbagai kegiatan dan aktivitas yang dilakukan oleh pemerintah bersama seluruh komponen bangsa, dengan keanekaragaman latar belakang dan budaya bangsa kita, dari pusat sampai daerah untuk terus mengokohkan, menguatkan dan memelihara semangat Kebangkitan Nasional.


Mari kita bangkit semuanya…..
Mari kita bangkitkan Desa Rangkat………
Terima kasih….

Wabilahitaufikwalhidayah Wasalamualaikum wr. wb.

Seluruh warga langsung memberi aplaus yang sangat meriah ketika Pak kades menyudahi pidatonya tersebut. Dan Pak kadespun kembali ke posisi semula. Pembawa acara pun menyampaikan bahwa acara selanjutnya adalah pembacaan doa yang akan disampaikan oleh Pak Hikmat. Dan setelah itu dilanjutkan dengan aubade yang dilaksanakan oleh seluruh warga Desa Rangkat sebagai akhir dari upacara yang penuh khikmat dan semangat, dengan menyanyikan lagu kebangsaan : ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ dan ‘Bagimu Negeri’.




Semangat Kebangkitan Desa Rangkat……….
Semangat Hari Kebangkitan Nasional !
(Edy Nawir, Pondok Petir, 20 Mei 2011)
___________________________________________________
DESA RANGKAT  menawarkan kesederhanaan cinta untuk anda,  datang, bergabung  dan berinteraksilah bersama kami (Klik logo kami)
13013791301221151128

TERNYATA JARAK ANTARA KOTA DEPOK - YOGYAKARTA TERASA DEKAT SEKALI [RANGKAT MENUJU YOGYA]


Terdengar kabar dari sahabatku yang jauh bahwa dua bulan lagi akan ada pertemuan warga De Rangkat di Yogyakarta. Aku bersukacita ! Lebih lagi ada Mommyku seraya berkata :
“Mas…..Mom sangat berharap kalau mas bisa ikut ke Yogya. Ayo kita ketemuan mas….”
“Aku juga sangat beharap sekali dapat hadir Mom….aku juga rindu Mom, bila memungkinkan akan aku usahakan Mom, tolong doakan ya Mom….,” sahutku lemas.
“Iya mas…Mom doakan semoga lancar……kalau bisa ajak keluarga mas…,” terdengar lagi jawaban.
Tiba-tiba hatiku bergetar, ada semilir rasa sejuk yang berlalu…rasa itu hinggap sesaat dan ketika terjaga ada bekas pijakan rindu membekas di beranda kalbu…langsung masuk ke dalam sajak…………
Belum beberapa jauh melangkah
jejak telah terasa dekat
melekat……..
walau seperti tak nampak
rasa itu pernah singgah
dan takdir tak bisa dinyana
diri dan kerabat
terus hidup terbayang
dalam hati jadi gambaran
sebuah keinginan jiwa
kiranya nyata tertata
bagai terlepas dahaga
semoga……..
ada getar asa peraduan
membayar rasa kasihku pada semua……………
Dari Pondok Petir di pinggiran Kota Depok, Jawa Barat, aku siap melangkahkan kakiku menuju ke suatu tempat yang lumayan jauh dari tempat tinggalku. Mungkin itu adalah sebuah hal yang anda sangat diidam-idamkan ketika hidup telah dipenuhi oleh segala aktifitas yang sangat menjenuhkan dan monoton. Tidak bisa menampik juga setiap orang tentunya ingin merasakan dan menikmati waktunya sendiri melakukan suatu hal yang dianggapnya mampu mendapatkan kepuasaan tersendiri bagi dirinya. Menghilang dari segala aktifitas yang rutin dilakukan hingga mendapatkan apa yang dinamakan sebagai kepuasan bathin. Sibuk dengan segala urusan dan kewajiban mulai dari keluarga, bekerja, hingga berbagai aktifitas lainnya tentu sangat menjenuhkan terkadang bagi diriku sendiri. Satu hal yang kemudian keluar dari pikiranku adalah menikmati waktu dengan melakukan perjalanan ke suatu tempat, entah ke mana, menghilang dari segala hal yang biasa selalu dilakukan, sekejap berjalan dan menikmati suasana baru.
Yogyakarta ! Sebuah tempat yang telah menjadi pilihanku untuk menikmati liburan bersama keluarga tahun ini, sekaligus melepas rindu dengan para sahabat. Aku sudah pernah singgah di kota ini, pada saat aku bekerja, tamasya, tour dan jalan-jalan di kota gudeg tersebut. Seingat saya Yogyakarta adalah sebuah kota yang tenang, kota pelajar, kota yang tidak asing bagi diri saya untuk menikmati liburan. Yogakarta saat ini masih merupakan sebuah tempat yang segalanya masih murah. Dengan biaya yang relatif murah dibanding di tempat wisata lainnya, kita dapat menginap, menyantap masakan tradisional yang terkenal, dan menyewa kendaraan untuk menjelajahi pantai-pantai yang masih perawan dan candi-candi kuno berusia ribuan tahun.
Banyak tempat-tempat wisata di Yogyakarta tidak terjangkau oleh kendaraan umum, padahal pesonanya sangat sayang untuk dilewatkan. Maka sebaiknya bila memungkinkan datang ke Yogya dengan membawa kendaraan sendiri akan menjadi kenikmatan tersendiri disamping dapat singgah kemana-mana. Atau menyewa kendaraan adalah pilihan ideal bagi kita yang ingin menjelajahi tempat-tempat wisata di sana sepuasnya. Manstaf !
Selain Candi Borobudur, aku membayangkan Yogyakarta juga masih menyimpan warisan budaya leluhur berupa seni tradisional yang tentunya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merencanakan liburan disana. Selain itu, seni kerajinan tradisional Yogyakarta juga masih mampu memikat pengunjung untuk datang seperti seni batik, perak, dan kulit. Sangat Menarik !
Ada banyak pilihan bagaimana aku dapat menuju Yogya dari tempat tinggalku sekarang ini. Dan pilihan itu sangat mengasyikan. Pilih yang mana ya? Menggunakan Kereta Api, Bis Antar Kota, Pesawat Terbang atau membawa kendaraan sendiri.
Seingatku bila menggunakan kereta api, kita bisa berangkat dari Jakarta, Stasiun Gambir atau Kota menuju Yogya, dengan kereta api ekonomi akan sampai di Stasiun Lempuyangan, dan dengan kereta api kelas bisnis dan eksekutif sampai di Stasiun Tugu. Lalu bila menggunakan bis antar kota, Yogya dapat dicapai dari Lebak Bulus, Pulogadung dan terminal lainnya atau dari agen-agen bis di daerah kita menuju ke Terminal Giwangan. Dan tentunya bila kita menggunakan pesawat terbang maka akan mendarat di Bandara International Adisutjipto.
Akhirnya setelah menentukan pilihan, aku bergegas hendak berangkat. Namun tiba-tiba diriku terjaga…. Dan sejenak kutermenung setelah bangun dari peraduan, “Ternyata jarak antara Kota Depok – Yogyakarta terasa dekat sekali…”.-
Pondok Petir, 11 Mei 2011
Edy Nawir

___________________________________________________
DESA RANGKAT  menawarkan kesederhanaan cinta untuk anda,  datang, bergabung  dan berinteraksilah bersama kami (Klik logo kami)
13013791301221151128

PEMILIHAN KETUA RUKUN WARGA DI DESA RANGKAT


Setelah desa indah yang sejuk damai mulai ramai, Rangkat mulai sibuk dengan penduduknya dan pak Kades Yayok Haryanto, telah menetapkan sistim organisasi desa yang dianggap penting demi kemajuan desa tersebut. Pemilihan Ketua Rukun Warga (RW) pun akhirnya telah dilaksanakan dengan aman dan tertib.
Sistim, tata cara, dan mekanisme pemilihan umum (pemilu) di Indonesia tampaknya telah mengakar hingga pada pemilihan Ketua RW yang baru. Hal ini terjadi di RW 01 Desa Rangkat. Kecamatan Elok. Kompasiana Pusat.
Ibu Kades Mommy, menjelaskan kepada seluruh warga, bahwa Desa Rangkat adalah wadah komunitas warga Kompasiana dalam menuangkan segala ide dan imajinasi kreatif akan sebuah desa yang tumbuh kembang bersama rasa Toleransi, Kesamaan, Persaudaraan dan Persahabatan juga rasa Kekeluargaan yang dijunjung tinggi. Desa Rangkat adalah desa yang dibangun dan dibesarkan melalui hati dan rasa dengan prinsip ‘diskusi elok sarat asah-asih-asuh dalam merangkai kata.
Dalam kesempatan di sebuah pertemuan warga desa, Ibu Kades Mommy pernah membacakan sajak tentang Desa Rangkat :
Sawah itu terbentang dalam ingatan…
hijau royo royo terhampar jauh di kaki bukit
itulah karunia Tuhan yang mencipta
jadilah, dan semuapun jadi
tanah dengan air
langit dengan udara
makhluk pun juga
Maka petanipun membentuk tanah jadi sawah
benihpun tumbuh diatasnya
aku bersyukur
diciptakan dari tanah
yang memberi makan bagi tubuh
yang menyediakan tempat bagi mati
Pelaksanaan pemilihan Ketua RW 01 yang baru disambut gembira oleh seluruh warga desa. Gelaran pemilihan disulap layaknya pesta demokrasi pemilihan presiden (pilpres). Ada dua tempat pemungutan suara (TPS) atau bilik pencoblosan suara pun dibuat rapi sejajar. Setiap wakil warga yang telah memilih pun ditandai dengan tinta pada Jarinya. Luar biasa !
Dalam pemilihan ketua RW tersebut telah diatur sesuai dengan peraturan desa bahwa yang berhak memilih adalah wakil dari setiap Rukun Tetangga (RT). Walaupun tak semua warga memilih karena telah diwakili 6 orang setiap RT-nya, peristiwa yang baru pertama kali ini di RW 01, mengundang antusias seluruh warga. Sejak pukul 08.00 pagi mereka sudah berdatangan untuk menyaksikan pemungutan suara hingga penghitungannya.
TPS atau Bilik suara dan panggung kecil yang dibangun di Jalan Cinta. RT 01/01 Desa Rangkat, itu dipenuhi warga. Dari 5 RT ada 30 pemilih yang akan menentukan Ketua RW 01 Desa Rangkat yang baru.
Ketua Panitia Pemilihan Ketua RW 01 Sdr. Ade Supriadi (Ki Bodo Ade, Pemilik Klinik Cinta Rangkat. Awalnya sih tukang servis senter), mengungkapkan, mereka bekerja sejak 16 Maret 2011. Mulai dari penyaringan bakal calon hingga pendaftaran pemilih dilakukan secara intensif. Menurutnya, mulai dari kertas suara, pembuatan bilik dan panggung kecil tempat penghitungan suara dibuat secara swadaya oleh seluruh warga RW 01. Dana yang dihabiskan sekitar Rp 1 Juta. Sebagian diambil dari kas RW sedangkan sebagian lagi sumbangan warga.
Dalam penyaringan bakal calon (balon) Ketua RW 01 ini, akhirnya ditetapkan 3 calon yakni: Sdr. Ibay(Ketua RT 05, punya usaha sampingan warung pojok Lebay), Sdr. Triansjah PJ (Komandan Hansip yang punya pentungan keramat, kadang-kadang nyambi jadi tukang jualan kompor), dari RT 02 dan Sdr. Edy Priyatna dari RT 01.
Sebenarnya ada dua balon lagi yang lolos penyaringan, tapi dia telah mengundurkan diri, yaitu Sdr.Halim Malik (dari RT 03) dan Sdr. Helmi Budiprasetyo (dari RT 04).
Semua balon harus memenuhi syarat tertentu yakni harus warga desa Rangkat RW 01, berumur cukup yakni di atas 17 tahun, serta yang terpenting diajukan oleh pengurus atau Ketua RT-nya. Warga Desa Rangkat saat ini berjumlah 159 orang, yang tersebar di 5 RT yaitu RT 01, RT 02, RT 03, RT 04 dan RT 05. Sehingga secara keseluruhan hanya ada 30 orang warga yang mempunyai hak memilih.
Anggota Dewan Desa Rangkat, Elvaretta / Perawan Alas (Neng Acik, Sekdes yang mondar-mandir bawa stempel. Hobi nya main ke hutan), yang juga warga RW 01, mengungkapkan bahwa 6 orang perwakilan dari setiap RT dianggap oleh warga sudah sangat mewakili mereka.
“Ini keputusan musyawarah RW dan semua warga menerimanya,” kata Neng Acik, menjelaskan kepada seluruh warga yang hadir.
Oleh karena itulah banyak warga yang ikut menyaksikan pemilihan RW tersebut, sekalipun mereka tidak memberikan suara tetap antusias datang untuk melihat penghitungan suara karena merasa sudah terwakili. Ke-enam orang perwakilan warga setiap RT-nya yang berhak memberikan suara Itu terdiri dari 3 orang pengurus RT (yakni ketua RT, sekertaris dan bendahara RT), perwakilan ibu PKK. perwakilan Karang Taruna dan seorang tokoh masyarakat setempat.
Pelaksanaan pemilihan pun akhirnya dimulai pada jam 10.00 setelah pak Kades memberikan sepatah dua patah kata dan sekaligus memberikan tanda dimulainya pemilihan tersebut. Sementara para warga yang hadir menyaksikan menyambut gembira dengan semangat memberikan support seperti layaknya menonton pertandingan sepak bola, dimana mereka dengan serunya meneriakan yel-yel mereka. Setelah pelaksanaan pencoblosan usai dilanjutkan dengan pembukaan dan pembacaan suara yang syah.
Dari 30 orang pemilih yang mewakili warga dan berhak memberikan suaranya akhirnya Sdr. Edy Priyatna sang incumbent terpilih menjadi Ketua RW dengan 16 suara. Sedangkan Sdr. Triansyah PJ mandapat 8 suara dan Sdr. Ibay mendapat 6 suara. Spirit demokrasi memang sangat tampak. Sejak awal kandidat yang duduk di depan panggung tampak sangat santai dan mengumbar senyum. Tak ada wajah tegang dan persaingan di antara ketiganya. Bahkan sesaat setelah acara penghitungan suara berakhir dengan terpilihnya Edy Priyatna dua kandidat lain yakni Triansyah dan Ibay langsung memberi selamat kepada Ketua RW 01 terpilih.
Setelah selesai pemilihan tersebut, tepat jam 12.00 semua warga yang hadir makan siang bersama sebagai tanda gembira dan kebersamaan Desa Rangkat.
Ini merupakan suatu fenomena yang positif. Harapan seluruh warga RW 01 dengan kepengurusan baru ini, yang berawal dari pesta demokrasi kecil menuju ke arah yang lebih baik, demi terciptanya masyarakat madani di Desa Rangkat yang indah dan damai ini.
Akhirnya selesailah sudah pemilihan Ketua RW 01 Desa Rangkat yang juga telah mencerminkan demokrasi dengan rasa toleransi, kebersamaan, persaudaraan dan persahabatan juga rasa kekeluargaan yang telah dijunjung tinggi di Desa Rangkat.
Salam Manstaf Selalu…….
Salam De Rangkat !
(Pondok Petir, 03 Mei 2011)
___________________________________________________
DESA RANGKAT  menawarkan kesederhanaan cinta untuk anda,  datang, bergabung  dan berinteraksilah bersama kami (Klik logo kami)
13013791301221151128
Postingan 03 Mei 2011

Rabu, 21 September 2011

MIMPI MENJADI MENTERI PENDIDIKAN (HARDIKNAS - RANGKAT)




Pada sebuah desa yang indah dan damai serta sejuk, ketika mentari mulai terbit di ufuk timur, Khade terjaga dari tidurnya. Dia duduk termenung di dalam kamarnya yang mulai terang dengan sinar yang cerah dari jendela di sudut dinding. Dia telah tersadar dari sebuah perjalanan yang panjang, dalam mimpi saat ia tidur sejak semalam.

Dalam benaknya Khade mencoba mengingat-ingat kembali kejadian yang telah ia alami. Semalam dia merasakan sesuatu yang sangat aneh. Setelah aku tamat sekolah dasar kemudian belajar di sekolah lanjutan namun dalam mimpinya itu, aku tidak dapat mengikuti ujian akhir karena sakit. Kemudian aku bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar di sebuah kotanya. Selama bekerja aku menjadi seorang penulis yang hebat. Tulisan-tulisanku sangat komunikatif, aktual, inspiratif, menarik dan bermanfaat. Bahkan mampu membangkitkan semangat bagi pembacanya.

Sebagai wartawan yang aktif membuatku juga aktif dalam berbagai organisasi sosial dan politik. Ia menjadi seksi propaganda pada sebuah komunitas BO selalu mensosialisasikan dan menggugah kesadaran warga desanya untuk kepentingan persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Bersama teman-temannya Dekker dan Cipto, Khade mendirikan partai, namun dalam mimpinya itu partainya ditolak oleh Pemerintah karena dianggap dapat menentang Pemerintah. Setelah ditolak akhirnya partai tersebut membentuk Komite BP. Komite itu sekaligus sebagai komite tandingan dari Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Pemerintah. Komite BP itu melancarkan kritik terhadap Pemerintah yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri dari penjajahan bangsa lain dengan menarik uang dari rakyat jajahannya untuk membiayai pesta perayaan tersebut.

Sehubungan dengan rencana perayaan itu, ia pun mengkritik lewat tulisan berjudul “Seandainya Aku Seorang Pemerintah” dan “Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga”. Tulisan Seandainya Aku Seorang Pemerintah yang dimuat dalam surat kabar de Expres milik temannya Dekker itu antara lain berbunyi: “Sekiranya aku seorang Pemerintah, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu”.

Karangannya itu mengakibatkan, Pemerintah menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan, berupa hukuman internering (hukum buang) yaitu sebuah hukuman dengan menunjuk sebuah tempat tinggal yang boleh bagi seseorang untuk bertempat tinggal. Ia pun dihukum buang ke sebuah pulau (PB). Sahabatnya Dekker dan Cipto merasakan rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil. Mereka pun menerbitkan tulisan yang bernada membela Khade. Tetapi pihak Pemerintah menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memusuhi dan memberontak pada pemerinah. Akibatnya keduanya juga terkena hukuman internering. Dekker dibuang di Kupang dan Cipto dibuang ke pulau Banda. Namun mereka menghendaki dibuang ke Negeri Pemerintah karena di sana mereka bisa memperlajari banyak hal dari pada di daerah terpencil. Akhirnya Khade, Dekker dan Cipto diijinkan pergi ke Negeri Pemerintah sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman.

Tiba-tiba Khade tersadar dari lamunannya, “Wah, hebat sekali mimpiku ini !” katanya dalam hati sambil melihat pemandangan yang indah di luar jendela kamarnya. Tak lama kemudian ia kembali lagi ke dalam mimpinya itu.

Setelah menjalani hukuman tersebut (selama lebih kurang 5 tahun), aku dan sahabat-sahabatku pulang kembali ke tanah air. Selama dalam pengasingan Khade menyempatkan diri untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga Khade berhasil memperoleh Europeesche Akte. Lalu Khade bersama rekan-rekan seperjuangannya, mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, Perguruan Taman Siswa. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Tidak sedikit rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa. Pemerintah telah berupaya merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada waktu itu. Tetapi dengan kegigihan memperjuangkan haknya, sehingga ordonansi itu kemudian dicabut.

Khade juga tetap rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisannya berjumlah ratusan buah. Ternyata dengan tulisan-tulisan itu dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsanya.

Waktu terus berjalan hingga sampai pada masa Pemerintahan yang lain, Pemerintah Baru, Khade tetap melajutkan kegiatan di bidang politik dan pendidikan. Waktu Pemerintah Baru itu membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Dan Khade duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Bung Karno, Bung Hatta dan Mas Mansur. Ketika Pemerintah Baru itu akhirnya diusir oleh rakyat, Bung Karno dan Bung Hatta menjadi pemimpin Negara, Khade diangkat menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama.

Khade kembali terjaga, “Nah, ini yang menurutku aneh itu,” katanya dalam hati, “Ternyata aku semalam telah menjadi Menteri !” Lalu ia mengambil gelas air minumnya, air putih, dan meneguknya sampai habis. Khade pun tersenyum sejuk, kemudian ia mengambil handuk yang ada di gantungan handuk di sebelah tempat tidurnya. Khade langsung segera mandi pagi dan siap menuju ke tempat kerja. Khade adalah seorang guru sebuah sekolah lanjutan atas di desa Rangkat.

Terlihat di atas sebuah bantal Khade, sebuah buku biografi Ki Hajar Dewantara (Yogyakarta, 2 Mei 1889 – 28 April 1959) :

“Ki Hadjar Dewantara” bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (Bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957.


Dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa itu, ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana.


Pihak penerus perguruan Taman Siswa, mendirikan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta, untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Dalam museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri Tamansiswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional.


Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi.


Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya yang terkenal ialah tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sungtulada (di belakang memberi dorongan, di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa, di depan memberi teladan).-


SEMANGAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Catatan :
BO = Boedi Oetomo
BP = Bumi Poetra
Pemerintah = Belanda
PB = Pulau Bangka
Pemerintah Baru = Jepang
___________________________________________________
DESA RANGKAT  menawarkan kesederhanaan cinta untuk anda,  datang, bergabung  dan berinteraksilah bersama kami (Klik logo kami)
13013791301221151128

RAKSASA

Setiap hari setelah pulang sekolah, anak-anak sering pergi bermain ke kebun raksasa. Mereka bermain-main dengan riangnya. Kebun itu luas dan indah sekali. Rumput yang hijau halus terbentang disana. Bunga-bunga yang indah pun tumbuh dengan baik. Burung-burung bertengger dan berterbangan dari pohon ke pohon sambil bernyanyi dengan merdunya.
“Enak sekali, bermain-main disini !” kata anak-anak itu menyatakan kepuasan hatinya. Akan tetapi, pada suatu hari raksasa kembali kerumahnya. Sudah lama sekali raksasa tersebut meninggalkan rumahnya. Ketika tiba di rumahnya didapatinya anak-anak sedang bermain-main di kebun. Raksasa sangat marah sekali. Matanya yang besar itu melotot mengerikan.
“Hai !! Sedang apa kalian ribut-ribut di kebunku hah ?” bentak raksasa. Suaranya menggelegar menakutkan. Anak-anak serta merta lari berhamburan ketika mendengar suara bentakan raksasa tadi. Mereka bukan main takutnya setelah sempat melihat tubuh raksasa yang sangat tinggi besar itu.
“Kebun ini kepunyaanku !” kata raksasa, “Mulai hari ini siapa yang masuk ke kebun ini, akan kutangkap !”. Dengan demikian raksasa telah menyatakan dirinya sebagai raksasa yang hanya mementingkan dirinya saja. Kemudian raksasa itupun membangun pagar tembok yang tinggi di sekeliling kebunnya itu. Dia tidak ingin ada anak-anak yang ikut menikmati keindahan kebunnya lagi.
“Jika ada yang masuk ke kebunku, pasti akan aku hukum !” gumam raksasa, setelah menyelesaikan pagar keliling tersebut. Sehingga anak-anak yang malang itu tidak punya tempat bermain lagi. Setelah pulang sekolah mereka tidak pernah keluar rumah. Mereka sering mengatakan, betapa indahnya kebun raksasa itu. Sayang raksasa tak mau mengerti kegemaran anak-anak tersebut. Sesekali mereka memanjat dan melongok melewati tembok yang tinggi, memandangi kebun itu dan dengan sedihnya membicarakan permainan-permainan yang dulu mereka lakukan disana.
Waktupun terus berlalu, hingga tibalah musim penghujan. Akan tetapi betapa anehnya di kebun raksasa itu, tidak ada hujan sama sekali di sana. Yang ada hanyalah panas yang terik. Bahkan panasnya makin menjadi-jadi. Seakan-akan masih berlangsung musim kemarau. Sehingga raksasa merasa bersedih hati. Gersang.
“Aku tidak mengerti mengapa hujan tak kunjung datang juga,” gerutunya.
“Kuharap ini akan segera berubah…,” gumamnya dalam hati. Akan tetapi musim penghujanpun tetap tidak juga datang.
Pada suatu pagi ketika raksasa masih berbaring di tempat tidurnya, tiba-tiba saja ia mendengar suara yang sangat merdu dan pada saat itu juga ia langsung menengok keluar, ia ingin tahu asalnya bunyi suara tersebut. Ia mencari-cari siapakah yang bersenadung itu, namun tak ia dapati. Raksasa tak tahu kalau itu adalah suara si kecil yang bernyanyi riang di luar jendela rumah raksasa. Dia telah merindukan suara yang demikian itu. Sebab sudah lama tak pernah mendengar kicauan burung di dalam kebunnya. Raksasa baru menyadari kalau dirinya telah merasakan kesepian. Ia berharap agar kebunnya yang luas itu kembali menjadi indah lagi. Rumput yang hijau halus, terbentang lagi disana, bunga-bunga yang indah pun tumbuh kembali dengan baik serta burung-burung bertengger dan berterbangan dari pohon ke pohon sambil bernyanyi dengan merdunya.
Udara di kebunnya sudah tidak panas lagi. “Oh…akhirnya datang juga musim penghujan ini,” kata raksasa. Tiba-tiba raksasa terpesona. Apa gerangan yang dilihatnya? Ternyata raksasa hampir-hampir tidak percaya pada pengelihatannya. Melalui lubang kecil bawah pagar, anak-anak merangkak masuk ke kebun lalu memanjat pohon yang ada di kebun itu. Sementara raksasa mengintainya. Dan tampaknya pohon-pohon itu gembira serta mereka seperti senang menyongsong kedatangan anak-anak yang sudah lama tidak pernah datang lagi ke kebun itu. Semuanya sudah berada di atas pohon, hanya satu anak lagi yang masih berusaha untuk memanjatnya, namun masih belum berhasil.
Dia adalah si kecil. Memang ia terlalu kecil, sehingga bagaimana pun juga tak akan bisa menjangkau dahan pohon itu. Dan seketika itu hati raksasa yang tadinya keras itupun menjadi lunak setelah melihat anak kecil tersebut.
“Aku terlalu jahat dengan mereka,” gerutu raksasa. “Sekarang aku tahu mengapa musim penghujan itu enggan sekali datang kemari. Aku akan meletakkan anak kecil itu di puncak pohon. Dan pagar itu akan aku runtuhkan. Pasti kebunku akan ramai dijadikan tempat bermain oleh anak-anak untuk selama-lamanya.” Tanpa sadar raksasa itupun meneteskan air matanya. Sadar.
Sekarang raksasa benar-benar menyesali perbuatannya, karena itu ia langsung lari ke kebunnya. Akan tetapi anak-anak melihatnya, mereka sangat ketakutan lalu semuanya lari berhamburan. Dan hanya anak kecil itu saja yang tidak lari. Matanya penuh dengan air mata, sehingga ia sama sekali tidak dapat melihat raksasa itu datang. Lalu raksasa mengangkatnya ke atas pohon dan seketika itu juga pohon tersebut berbungga. Burung-burung berdatangan kesana dan bernyanyi-nyanyi dengan merdunya. Raksasa merasa gembira sekali. Anak-anak yang lainnya ketika melihat raksasa berlaku baik terhadap si kecil segera berdatangan kembali. Anak kecil itupun langsung memeluk raksasa dan menciumnya.

“Mulai hari ini, kebun ini adalah kebun kalian semua !” kata raksasa dengan lembut dan ramah kepada anak-anak sambil merubuhkan pagar kebun itu. Dan mulai hari itu pula musim penghujan datang kembali ke kebun raksasa. Sehingga kebun itu tidak gersang lagi.
Sepanjang hari anak-anak bermain dan petang harinya mereka datang menemui raksasa untuk pamit pulang.
“Anak-anakku dimana temanmu yang kecil itu ?” tanya raksasa.
“Kami tidak tahu…,” jawab anak-anak, “mungkin dia sudah pergi.”
“Katakan padanya agar dia datang lagi kesini besok,” kata raksasa.
Akan tetapi anak-anak mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui tinggalnya anak itu. Mereka sebenarnya baru melihat pada hari itu. Dan raksasa bukan main sedihnya mendengar cerita anak-anak tersebut. Raksasa sangat mencintai anak itu karena telah menciumnya.
Setiap hari anak-anak setelah pulang sekolah selalu bermain dengan raksasa. Akan tetapi si kecil itu tidak pernah muncul. “Aku ingin sekali bertemu dengan anak kecil itu !” katanya dengan perasaan rindu membayang di wajah yang semakin tua itu.
Akhirnya tahun pun berganti tahun. Raksasa semakin bertambah tua dan lemah. Dia tidak bisa bermain lagi dengan anak-anak. Sekarang ini kerjannya hanya duduk diatas kursi sambil memperhatikan anak-anak bermain dan tak habis-habisnya mengagumi kebunnya yang indah itu, yang kini selalu dirawat oleh anak-anak.
“Tapi dimanakah anak kecil itu ?” kata raksasa dalam hati. Namun bersamaan dengan itu tiba-tiba langit menjadi cerah, bahkan lebih cerah dari biasanya dan ada cahaya datang ke kebun raksasa. Sekonyong-konyong ia mengusik matanya. Ia melihat ke arah kebun dan ia merasakan adanya perubahan yang sangat ajaib.
Lalu……………………
“Selamat pagi raksasa !” tiba-tiba terdengar suara anak kecil dari belakang, di atas dahan. Raksasa kaget, lalu ia heran melihat seorang anak kecil tersebut berpakaian putih-putih sedang duduk di dahan salah satu pohon yang ada di kebunnya. Anak itu tersenyum kepada raksasa,
“Siapakah engkau ?” tanya raksasa kemudian. Anak kecil itu tidak langsung menjawab, ia tetap tersenyum terus memandangi raksasa, baru setelah itu ia berkata : “Raksasa, aku adalah anak kecil yang pernah engkau izinkan bermain-main di kebunmu ini. Sekarang tiba waktunya engkau datang bermain-main di kebunku, yaitu surga !”
Dan ketika anak-anak berdatangan ke kebun siang itu, mereka menemukan raksasa tergeletak mati dibawah pohon. Seluruh tubuhnya tertutup bunga-bunga berwarna putih.-
Pondok Petir, 23 April 2011
(Sebuah dongeng dunia yang telah didongengkan kembali oleh Edy Priyatna kepada cucu-cucunya)