TERUSLAH MENULIS SELAMA KITA MASIH BISA MENULIS

"TERUSLAH MENULIS SELAMA KITA MASIH BISA MENULIS"
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 September 2011

CURAHAN HATI NUNIL [MPK]


1307807964525103969
Senja telah mulai sirna ketika udarapun tidak begitu bersahabat. Hujan turun dari mulai rintik-rintik hingga menjadi lebat bercampur badai. Mencekam sekali rasanya, apalagi listrik padam pada saat itu. Sehingga dapat dibayangkan betapa gelapnya keadaan desa Rangkat malam itu. Dan cukup lama keadaan tersebut baru mulai berbeda. Setelah hujan agak reda, Nunil mengambil HP nya lalu langsung menghubungi seseorang yang sudah lama sekali tidak pernah ia temui.
“Hallo… !”
“Ya, hallo…… !”
“Assalamu’alakum”
“Waalaikumsalam…..”
“Bisa bicara dengan Edri ?”
“Ya, saya sendiri !”
“Hey, Dri! Aku Nunil masih ingat ?”
“Hey, kamu rupanya ! Tumben baru telepon lagi ? Apa kabarnya nih ?”
“Baik-baik Dri, kamu bagaimana ?”
“Sama, cuma sedikit pusing karena cuaca agak buruk ya ? Ada kabar apa nih?”
“Dri, malam ini kamu sibuk nggak?”
“Nggak tuh, kenapa?”
“Bisa terima pengaduan nggak?”
Edri tertawa mendengarnya. Ia jadi teringat kalau sahabatnya yang satu ini - Nunil - memang selalu suka meminjam istilah-istilah lucu. Seperti pengaduan tadi misalnya. Pengaduan bagi Nunil artinya bahwa dia lagi punya uneg-uneg yang akan dibaginya dengan Edri.
“Bisa, glek saja langsung !”
Nunil gantian ketawa. Ia merasa cukup terhibur. Setelah seharian tadi kepalanya mumet dan merasa nyaris pecah gara-gara pertempuran dengan Adi, cowoknya.
“Begini Dri, kayanya aku nggak bisa langgeng sama Adi …..”
Nunil mulai melaporkan pengaduannya. Lalu ceritanya segara meluncur seperti sebuah cerpen.
****************
“Kalau mau bubaran, ya bubar saja Mas ! Kita nggak usah bertele-tele”.
Siang itu kemarahan Nunil sudah sampai ke ubun-ubun. Ditendangnya batu kecil yang ada di jalanan yang dilewatinya berdua Adi.
“Kamu itu bicara apa ?”
“Bicarain kita, Mas kira sekuat apa aku menahan kesal yang sudah menumpuk sejak lama ?”
“Kamu kesal sama saya ?”
“Sama semuanya ! Tapi yang penting sama kelakuan Mas. Mas selalu mau menang sendiri.
Selalu menyalahkan aku, sementara kalau Mas yang salah, Mas nggak merasa bersalah. Seolah-olah Mas nggak pernah bersalah terhadapku”. Adi mengerutkan keningnya.
“Bisa kamu sebutkan ?”
“Bisa, banyak sekali !”, sambar Nunil cepat
“Yang paling gres seminggu yang lalu. Mas menyalahkan aku ketika aku pergi dengan teman-temanku dan melarang aku untuk pergi dengan orang lain ! Sementara kemarin, Mas ngobrol sama cewek dengan seenaknya. Seolah-olah aku dianggap nggak ada”.
“Kapan ? Saya nggak merasa seperti yang kamu tuduhkan ! Sayang saya tak berkurang kan ? Kamu saja yang lagi senang marahin saya !”
“Aku nggak mau dengar rayuan Mas lagi, pokoknya aku ingin kita bubaran !”
“Lho ! Itu kan maumu, keinginan sepihak. Berarti kamu memaksa saya ?”
“Pokoknya bubar !”
“Nunil, kita kan sudah lama bersama. Hampir satu setengah tahun. Bukan saatnya lagi kita ribut-ribut kayak begini dan ingin bubar lagi. Pasti ada solusinya, kita bisa bicarakan baik-baik”.
“Justru karena sudah lama aku sudah mencoba berdiam diri, biar Mas merasa. Tapi nyatanya Mas masih nggak mengerti juga !”.
“Kamu marah, Nil ?”
“Marah sekali !”
****************
“Terus, terus ……..”, Edri mendengarkan cerita Nunil dengan tekun. Cewek memang suka begitu kalau marah ledakannya sungguh hebat !
“Terus, terus. Memangnya cerita bersambung ?”, Nunil kesal. “Kayaknya kamu lagi nanggapin aku deh, Dri”.
“Bukan begitu, Nil. Kalau kamu ceritakan semuanya nanti bisa plong. Aku kan cuma ingin kamu baik-baik saja”.
“Aku baik-baik aja, koq. Sudah lega dan senang bisa cerita sama kamu. Ya, begitu deh, kalau pacaran sama Adi. Dia mau menang sendiri. Adi itu merasa benar terus. Semua cowok sifatnya begitu, ya ?”
“Nil ….”, Edri mengingatkan. “Aku juga cowok, lho.”
“Sorry, deh ! Soalnya si Adi menyebalkan sih….”
“Kamu itu mestinya membuat kepalamu dingin dulu, Nil. Jangan memutuskan sesuatu dengan keadaan emosi. Hasilnya pasti kurang baik”.
“O, iya ?”
“Iya, coba deh tenang dulu. Kalau besok atau nanti ketemu Adi, bicara baik-baik. Kamu pikirkan yang lebih dalam lagi”.
****************
Keesokan harinya dengan berbekal nasehat dari Edri, Nunil pergi untuk menemui Adi dengan hati yang senang. Maksudnya, dia berusaha mengusir rasa sebal dan segala sumpah serapahnya buat Adi. Nunil sengaja tidak menghubungi Adi lewat HP nya.
Namun setelah tiba di rumahnya Adi, ternyata dia belum pulang sejak kemarin. Ia pergi entah kemana. Dihubungi lewat HP pun tidak ada jawaban. Dengan perasaan kecewa Nunil menitipkan pesannya. Dia berusaha habis-habisan untuk bertemu Adi. Sejam, dua jam, sehari, tiga hari dan berikutnya hanyalah harapan dan penantian yang tak berujung. Akhirnya Nunil mulai kesal karena tidak ada kabar tentang Adi.
“Aku jadi nggak sabaran deh, Dri. Diharapkan ada, malah nggak ada. Dikangenin malah nggak mau tahu. Aku benar-benar kesal, nih !”
“Wah, kamu saja yang suka emosi, Nil. Mungkin dia sedang sibuk atau kamu hanya selisih jalan sama dia”.
“Nggak mungkin, Dri. Aku sudah ke rumahnya, koq. Barangkali dia menghindar dari aku, ya !”
“Tuh, kan mulai lagi deh kamu berprasangka buruk. Itu nggak baik”.
“Soalnya Adi dikangenin nggak mau. Kamu tahu aku kan ? Kalau aku rindu dan orang yang aku rindu nggak ada, aku selalu mengubur rinduku itu. Makin lama waktunya lewat, akau makin nggak mau membicarakannya lagi. Aku anggap sudah nggak ada rindu lagi”.
“Kamu harus makin sering menyabarkan hatimu, Nil. Orang sabar itu selalu dikasihani Allah…..”.
****************
Adi datang ke rumah Nunil seminggu kemudian, setelah Nunil menelepon Edri. Saat itu perasaan Nunil kepada Adi biasa-biasa saja. Dia tidak kesal, dan tidak kangen kepada Adi. Perasaannya sungguh aneh, karena semuanya seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Biasa saja. Sangat datar.
“Kamu nggak kangen saya, Nil ?”
“Sudah nggak, tuh !”
“Koq, bisa begitu ?”
“Entah, ya. Itu diluar kehendakku”
“Oh, Nunilku. Kamu pasti masih mendidik marah pada saya, ya ?”
“Nggak tuh !”
“Saya kangen kamu, Nil ! Saya sayang kamu” Lalu Adi menggandeng tangan Nunil. Cepat-cepat Nunil menepiskan tangan kokoh itu.
“Aku tahu…” Malam harinya Nunil menelepon Edri lagi.
“Bayangkan, Dri…. Aku sudah nggak punya kangen lagi. Pun ketika ia muncul di depanku. Boro-boro kangen, digandeng saja aku nggak mau !”
“Kamu nggak boleh begitu, Nil. Kamu terlalu dihantui oleh perasaan kamu sendiri. Koq, sulit amat buat memaafkan kesalahan orang. Coba pikirkan lagi deh. Adi kan bukan orang lain buat kamu”.
“Justru itu ! Aku nggak enak dong, kalau cuma pura-pura sayang sama dia”.
“Cuma karena begitu, kamu jadi nggak sayang lagi ?”
“Pokoknya aku telah kehilangan segala rasa sayangku pada Adi, Dri. Aku sudah lelah…”.
Hening di seberang sana. Edri menunggu kelanjutan pembicaraan Nunil.
“Edri, apa benar ya, kalau kita kehilangan rasa kangen itu artinya kita sudah nggak sayang lagi sama orang yang kita cintai ?”
“Entah ya, Nil. Aku kan belum pernah mengalami seperti kamu itu”.
“Aku telah membohongi Adi, Dri. Sebenarnya sudah lama rasa sayangku itu habis. Sejak dia mulai tidak memperdulikan aku lagi”.
“Nunil, apapun yang akan kamu putuskan, kamu harus yakin benar akan semua tindakan itu, nggak cuma karena emosi. Itu saja. Rasanya aku sudah pernah bilang tentang hal ini kan ?”
“Sudah, terima kasih ya, Dri”.
****************
Nunil baru saja tiba di rumahnya. Ia tampak lusuh setelah seharian penuh pergi ke kampus membantu persiapan lomba penulisan prosa disana. Gadis berambut pendek itu langsung ke kamarnya dan membaringkan dirinya di atas kasur. Ada sesuatu yang lebih melelahkan dirinya selain karena melaksanakan tugas kepanitiaan. Dalam perjalanan pulang, tanpa sengaja Nunil bertemu Adi sedang berduaan dengan wanita lain. Tapi disaat itu ia sudah benar-benar tidak merasakan kecewa lagi. Namun hatinya seperti telah merasakan kelelahan yang amat dahsyat, sehingga ia langsung terlelap tanpa sadar tidak seperti biasanya. Lama Nunil tertidur hingga ia terjaga ketika mendengar suara dering HP nya.
“Selamat malam……..”, Nunil menyapa.
“Malam, Nunil…”
“Oh, kamu Mas”, Nunil segera mengenali suara Adi di seberang sana.
“Ada apa ?”
“Saya ingin menjelaskan kejadian siang tadi”
“Ah, nggak perlu koq, Mas. Semuanya sudah jelas bagiku……”
“Dengar dulu, Nil……”
“Nggak mau, aku tahu pasti Mas akan bilang adalah sulit bagi seseorang buat mengubah pandangannya tentang sesuatu yang sudah biasa dialaminya. Aku kenal betul siapa Mas !”
“Nunil…..”
“Biar kamu tahu, Mas ! Aku sejak dari awal sayang sama Mas, tapi bukan dengan kelakuanmu yang tidak terpuji itu”
Kata Nunil tegas sambil menahan gejolak emosinya.
“Saya tahu”, Adi menghela napasnya. “Maafkan saya, Nil. Kalau cemburu saya sudah kelewatan. Dan kelakuan saya yang menurutmu tidak adil terhadapmu”
Nunil diam sejenak. Dia harus tegas dalam mengambil keputusan.
“Sekarang saya mengerti semuanya, Nil”, Adi mencoba sabar. “Bagaimana kalau kita coba lagi, Nil ?”
“Nggak perlu. Aku sudah lelah”, Nunil memegang dahinya. “Aku sudah terlalu lelah. Aku ingin semuanya berakhir………”.
Tanpa menunggu kalimat Adi, Nunil memutuskan hubungan teleponnya. Tak lama kemudian, ia menghubungi Edri.
“Ternyata aku benar, Dri. Aku langsung kehilangan kangen, itu berarti aku sudah nggak sayang lagi sama orang yang seharusnya aku kangenin………”
“Kamu ngomong apa sih, Nil….. ?”
“Aku sudah resmi bubaran sama Adi barusan, Dri. Besok aku telepon kamu lagi ya ? Sekarang aku sangat lelah…..”.
“Halo, halo…….”, Edri masih memanggil-manggil waktu Nunil buru-buru mematikan HP nya.
****************
Geliat cinta dua antara insan.
Terkadang senyap dan sesekali mejulangi
Mengangkasa hingga tak dapat diraih lagi
Semua ada karena kebersamaan
Cinta yang jauh di ujung sana
Menanti dan mengharap pertemuannya
Dalam gelisah tiada tara
Meski batin tak bisa mengikat diantara keduanya
Suatu ketika cinta itu ternoda
Walau tiada kotoran yang merajahnya
Semua terjadi karena salah yang tipis saja
Hingga akhirnya menghapus rasa yang ada
Saat ini kebersamaan itu telah terganti
Rasa cinta yang selalu terobati
Karena ada dan selalu menemani
Dalam setiap resah dan gelisah yang merajahi
****************
Saat ini, disebuah taman yang indah terlihat dua sosok remaja yang sedang bercerita. Mereka terlihat senang bercengkrama. Kebahagiaan itu terpancar dari kedua senyumnya yang senantiasa saling membalas. Indah ditemani kupu kupu yang terbang diantara bunga-bunga yang berwarna-warni.
Hijau dedaunan dan rumput disekitarnya. Melengkapi perasaan mereka yang baru tumbuh dan semakin memperkuat akar akarnya. Karena cinta diantara keduanya berawal dari akar persahabatan yang sejak lama bersarang. Mereka kini menyirami akar itu dengan perasaan cinta dan kasih sayang.
Kedua sejoli tersebut duduk ditaman saling berhadapan. Mereka saling berucap janji untuk selalu menjaga cinta diantara keduanya. Karena mereka telah memahami kelemahan dan kekurangan masing-masing. Mereka berjanji untuk saling melengkapi. Sebagai pasangan kekasih.-
*********O*********
Penulis : R-82 & Edy Priyatna   Nomor peserta: 228
NB : Untuk membaca hasil karya para peserta Malam Prosa Kolaborasi yang lain maka dipersilahkan berkunjung ke sini : Hasil Karya Malam Prosa Kolaborasi.

(Ilustrasi by Google)

Rabu, 21 September 2011

RAKSASA

Setiap hari setelah pulang sekolah, anak-anak sering pergi bermain ke kebun raksasa. Mereka bermain-main dengan riangnya. Kebun itu luas dan indah sekali. Rumput yang hijau halus terbentang disana. Bunga-bunga yang indah pun tumbuh dengan baik. Burung-burung bertengger dan berterbangan dari pohon ke pohon sambil bernyanyi dengan merdunya.
“Enak sekali, bermain-main disini !” kata anak-anak itu menyatakan kepuasan hatinya. Akan tetapi, pada suatu hari raksasa kembali kerumahnya. Sudah lama sekali raksasa tersebut meninggalkan rumahnya. Ketika tiba di rumahnya didapatinya anak-anak sedang bermain-main di kebun. Raksasa sangat marah sekali. Matanya yang besar itu melotot mengerikan.
“Hai !! Sedang apa kalian ribut-ribut di kebunku hah ?” bentak raksasa. Suaranya menggelegar menakutkan. Anak-anak serta merta lari berhamburan ketika mendengar suara bentakan raksasa tadi. Mereka bukan main takutnya setelah sempat melihat tubuh raksasa yang sangat tinggi besar itu.
“Kebun ini kepunyaanku !” kata raksasa, “Mulai hari ini siapa yang masuk ke kebun ini, akan kutangkap !”. Dengan demikian raksasa telah menyatakan dirinya sebagai raksasa yang hanya mementingkan dirinya saja. Kemudian raksasa itupun membangun pagar tembok yang tinggi di sekeliling kebunnya itu. Dia tidak ingin ada anak-anak yang ikut menikmati keindahan kebunnya lagi.
“Jika ada yang masuk ke kebunku, pasti akan aku hukum !” gumam raksasa, setelah menyelesaikan pagar keliling tersebut. Sehingga anak-anak yang malang itu tidak punya tempat bermain lagi. Setelah pulang sekolah mereka tidak pernah keluar rumah. Mereka sering mengatakan, betapa indahnya kebun raksasa itu. Sayang raksasa tak mau mengerti kegemaran anak-anak tersebut. Sesekali mereka memanjat dan melongok melewati tembok yang tinggi, memandangi kebun itu dan dengan sedihnya membicarakan permainan-permainan yang dulu mereka lakukan disana.
Waktupun terus berlalu, hingga tibalah musim penghujan. Akan tetapi betapa anehnya di kebun raksasa itu, tidak ada hujan sama sekali di sana. Yang ada hanyalah panas yang terik. Bahkan panasnya makin menjadi-jadi. Seakan-akan masih berlangsung musim kemarau. Sehingga raksasa merasa bersedih hati. Gersang.
“Aku tidak mengerti mengapa hujan tak kunjung datang juga,” gerutunya.
“Kuharap ini akan segera berubah…,” gumamnya dalam hati. Akan tetapi musim penghujanpun tetap tidak juga datang.
Pada suatu pagi ketika raksasa masih berbaring di tempat tidurnya, tiba-tiba saja ia mendengar suara yang sangat merdu dan pada saat itu juga ia langsung menengok keluar, ia ingin tahu asalnya bunyi suara tersebut. Ia mencari-cari siapakah yang bersenadung itu, namun tak ia dapati. Raksasa tak tahu kalau itu adalah suara si kecil yang bernyanyi riang di luar jendela rumah raksasa. Dia telah merindukan suara yang demikian itu. Sebab sudah lama tak pernah mendengar kicauan burung di dalam kebunnya. Raksasa baru menyadari kalau dirinya telah merasakan kesepian. Ia berharap agar kebunnya yang luas itu kembali menjadi indah lagi. Rumput yang hijau halus, terbentang lagi disana, bunga-bunga yang indah pun tumbuh kembali dengan baik serta burung-burung bertengger dan berterbangan dari pohon ke pohon sambil bernyanyi dengan merdunya.
Udara di kebunnya sudah tidak panas lagi. “Oh…akhirnya datang juga musim penghujan ini,” kata raksasa. Tiba-tiba raksasa terpesona. Apa gerangan yang dilihatnya? Ternyata raksasa hampir-hampir tidak percaya pada pengelihatannya. Melalui lubang kecil bawah pagar, anak-anak merangkak masuk ke kebun lalu memanjat pohon yang ada di kebun itu. Sementara raksasa mengintainya. Dan tampaknya pohon-pohon itu gembira serta mereka seperti senang menyongsong kedatangan anak-anak yang sudah lama tidak pernah datang lagi ke kebun itu. Semuanya sudah berada di atas pohon, hanya satu anak lagi yang masih berusaha untuk memanjatnya, namun masih belum berhasil.
Dia adalah si kecil. Memang ia terlalu kecil, sehingga bagaimana pun juga tak akan bisa menjangkau dahan pohon itu. Dan seketika itu hati raksasa yang tadinya keras itupun menjadi lunak setelah melihat anak kecil tersebut.
“Aku terlalu jahat dengan mereka,” gerutu raksasa. “Sekarang aku tahu mengapa musim penghujan itu enggan sekali datang kemari. Aku akan meletakkan anak kecil itu di puncak pohon. Dan pagar itu akan aku runtuhkan. Pasti kebunku akan ramai dijadikan tempat bermain oleh anak-anak untuk selama-lamanya.” Tanpa sadar raksasa itupun meneteskan air matanya. Sadar.
Sekarang raksasa benar-benar menyesali perbuatannya, karena itu ia langsung lari ke kebunnya. Akan tetapi anak-anak melihatnya, mereka sangat ketakutan lalu semuanya lari berhamburan. Dan hanya anak kecil itu saja yang tidak lari. Matanya penuh dengan air mata, sehingga ia sama sekali tidak dapat melihat raksasa itu datang. Lalu raksasa mengangkatnya ke atas pohon dan seketika itu juga pohon tersebut berbungga. Burung-burung berdatangan kesana dan bernyanyi-nyanyi dengan merdunya. Raksasa merasa gembira sekali. Anak-anak yang lainnya ketika melihat raksasa berlaku baik terhadap si kecil segera berdatangan kembali. Anak kecil itupun langsung memeluk raksasa dan menciumnya.

“Mulai hari ini, kebun ini adalah kebun kalian semua !” kata raksasa dengan lembut dan ramah kepada anak-anak sambil merubuhkan pagar kebun itu. Dan mulai hari itu pula musim penghujan datang kembali ke kebun raksasa. Sehingga kebun itu tidak gersang lagi.
Sepanjang hari anak-anak bermain dan petang harinya mereka datang menemui raksasa untuk pamit pulang.
“Anak-anakku dimana temanmu yang kecil itu ?” tanya raksasa.
“Kami tidak tahu…,” jawab anak-anak, “mungkin dia sudah pergi.”
“Katakan padanya agar dia datang lagi kesini besok,” kata raksasa.
Akan tetapi anak-anak mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui tinggalnya anak itu. Mereka sebenarnya baru melihat pada hari itu. Dan raksasa bukan main sedihnya mendengar cerita anak-anak tersebut. Raksasa sangat mencintai anak itu karena telah menciumnya.
Setiap hari anak-anak setelah pulang sekolah selalu bermain dengan raksasa. Akan tetapi si kecil itu tidak pernah muncul. “Aku ingin sekali bertemu dengan anak kecil itu !” katanya dengan perasaan rindu membayang di wajah yang semakin tua itu.
Akhirnya tahun pun berganti tahun. Raksasa semakin bertambah tua dan lemah. Dia tidak bisa bermain lagi dengan anak-anak. Sekarang ini kerjannya hanya duduk diatas kursi sambil memperhatikan anak-anak bermain dan tak habis-habisnya mengagumi kebunnya yang indah itu, yang kini selalu dirawat oleh anak-anak.
“Tapi dimanakah anak kecil itu ?” kata raksasa dalam hati. Namun bersamaan dengan itu tiba-tiba langit menjadi cerah, bahkan lebih cerah dari biasanya dan ada cahaya datang ke kebun raksasa. Sekonyong-konyong ia mengusik matanya. Ia melihat ke arah kebun dan ia merasakan adanya perubahan yang sangat ajaib.
Lalu……………………
“Selamat pagi raksasa !” tiba-tiba terdengar suara anak kecil dari belakang, di atas dahan. Raksasa kaget, lalu ia heran melihat seorang anak kecil tersebut berpakaian putih-putih sedang duduk di dahan salah satu pohon yang ada di kebunnya. Anak itu tersenyum kepada raksasa,
“Siapakah engkau ?” tanya raksasa kemudian. Anak kecil itu tidak langsung menjawab, ia tetap tersenyum terus memandangi raksasa, baru setelah itu ia berkata : “Raksasa, aku adalah anak kecil yang pernah engkau izinkan bermain-main di kebunmu ini. Sekarang tiba waktunya engkau datang bermain-main di kebunku, yaitu surga !”
Dan ketika anak-anak berdatangan ke kebun siang itu, mereka menemukan raksasa tergeletak mati dibawah pohon. Seluruh tubuhnya tertutup bunga-bunga berwarna putih.-
Pondok Petir, 23 April 2011
(Sebuah dongeng dunia yang telah didongengkan kembali oleh Edy Priyatna kepada cucu-cucunya)

Minggu, 15 Mei 2011

SEBUAH KEPUTUSAN

Senja telah mulai sirna ketika udarapun tidak begitu bersahabat. Hujan turun dari mulai rintik-rintik hingga menjadi lebat bercampur badai. Mencekam sekali rasanya, apalagi listrik padam pada saat itu. Sehingga dapat dibayangkan betapa gelapnya keadaan kota Bengkulu malam itu. Dan cukup lama keadaan tersebut baru mulai berubah. Setelah agak reda Nunil mengangkat pesawat telepon di rumahnya. Dan ia langsung menekan nomor telepon yang sudah dihapal diluar kepalanya dengan cepat. Kemudian di tempat lain yang dituju ada yang mengangkat telepon yang berdering.
“Hallo… !”
“Ya, hallo…… !”
“Assalamu’alakum”
“Waalaikumsalam…..”
“Bisa bicara dengan Edri ?”
“Ya, saya sendiri !”
“Hey, Dri! Aku Nunil masih ingat ?”
“Hey, kamu rupanya ! Tumben baru telepon lagi ? Apa kabarnya nih ?”
“Baik-baik Dri, kamu bagaimana ?”
“Sama, cuma sedikit pusing karena cuaca agak buruk ya ? Ada kabar apa nih?”
“Dri, malam ini kamu sibuk nggak?”
“Nggak tuh, kenapa?”
“Bisa terima pengaduan nggak?”
Edri tertawa mendengarnya. Ia jadi teringat kalau sahabatnya yang satu ini - Nunil - memang selalu suka meminjam istilah-istilah lucu. Seperti pengaduan tadi misalnya. Pengaduan bagi Nunil artinya bahwa dia lagi punya uneg-uneg yang akan dibaginya dengan Edri.
“Bisa, glek saja langsung !”
Nunil gantian ketawa. Ia merasa cukup terhibur. Setelah seharian tadi kepalanya mumet dan merasa nyaris pecah gara-gara pertempuran dengan Adi, cowoknya.
“Begini Dri, kayanya aku nggak bisa langgeng sama Adi …..”
Nunil mulai melaporkan pengaduannya. Lalu ceritanya segara meluncur seperti sebuah cerpen.


**********

“Kalau mau bubaran, ya bubar saja Mas ! Kita nggak usah bertele-tele”.
Siang itu kemarahan Nunil sudah sampai ke ubun-ubun. Ditendangnya batu kecil yang ada di jalanan yang dilewatinya berdua Adi.
“Kamu itu bicara apa ?”
“Bicarain kita, Mas kira sekuat apa aku menahan kesal yang sudah menumpuk sejak lama ?”
“Kamu kesal sama saya ?”
“Sama semuanya ! Tapi yang penting sama kelakuan Mas. Mas selalu mau menang sendiri. Selalu menyalahkan aku, sementara kalau Mas yang salah, Mas nggak merasa bersalah. Seolah-olah Mas nggak pernah bersalah terhadapku”.
Adi mengerutkan keningnya.
“Bisa kamu sebutkan ?”
“Bisa, banyak sekali !”, sambar Nunil cepat
“Yang paling gres seminggu yang lalu. Mas menyalahkan aku ketika aku pergi dengan teman-temanku dan melarang aku untuk pergi dengan orang lain ! Sementara kemarin, Mas ngobrol sama cewek dengan seenaknya. Seolah-olah aku dianggap nggak ada”.
“Kapan ? Saya nggak merasa seperti yang kamu tuduhkan ! Sayang saya tak berkurang kan ? Kamu saja yang lagi senang marahin saya !”
“Aku nggak mau dengar rayuan Mas lagi, pokoknya aku ingin kita bubaran !”
“Lho ! Itu kan maumu, keinginan sepihak. Berarti kamu memaksa saya ?”
“Pokoknya bubar !”
“Nunil, kita kan sudah lama bersama. Hampir satu setengah tahun. Bukan saatnya lagi kita ribut-ribut kayak begini dan ingin bubar lagi. Pasti ada solusinya, kita bisa bicarakan baik-baik”.
“Justru karena sudah lama aku sudah mencoba berdiam diri, biar Mas merasa. Tapi nyatanya Mas masih nggak mengerti juga !”.
“Kamu marah, Nil ?”
“Marah sekali !”

**********

“Terus, terus ……..”, Edri mendengarkan cerita Nunil dengan tekun. Cewek memang suka begitu kalau marah ledakannya sungguh hebat !
“Terus, terus. Memangnya cerita bersambung ?”, Nunil kesal. “Kayaknya kamu lagi nanggapin aku deh, Dri”.
“Bukan begitu, Nil. Kalau kamu ceritakan semuanya nanti bisa plong. Aku kan cuma ingin kamu baik-baik saja”.
“Aku baik-baik aja, koq. Sudah lega dan senang bisa cerita sama kamu. Ya, begitu deh, kalau pacaran sama Adi. Dia mau menang sendiri. Adi itu merasa benar terus. Semua cowok sifatnya begitu, ya ?”
“Nil ….”, Edri mengingatkan. “Aku juga cowok, lho.”
“Sorry, deh ! Soalnya si Adi menyebalkan sih….”
“Kamu itu mestinya membuat kepalamu dingin dulu, Nil. Jangan memutuskan sesuatu dengan keadaan emosi. Hasilnya pasti kurang baik”.
“O, iya ?”
“Iya, coba deh tenang dulu. Kalau besok atau nanti ketemu Adi, bicara baik-baik. Kamu pikirkan yang lebih dalam lagi”.

**********

Keesokan harinya dengan berbekal nasehat dari Edri, Nunil pergi untuk menemui Adi dengan hati yang senang. Maksudnya, dia berusaha mengusir rasa sebal dan segala sumpah serapahnya buat Adi.
Namun setelah tiba di rumahnya Adi, ternyata dia belum pulang sejak kemarin. Ia pergi entah kemana. Dengan perasaan kecewa Nunil menitipkan pesannya. Dia berusaha habis-habisan untuk bertemu Adi. Sejam, dua jam, sehari, tiga hari …………. …………
Lama-lama Nunil heran dan mulai kesal lagi karena tidak ada kabar tentang Adi.
“Aku jadi nggak sabaran deh, Dri. Diharapkan ada, malah nggak ada. Dikangenin malah nggak mau tahu. Aku benar-benar kesal, nih !”
“Wah, kamu saja yang suka emosi, Nil. Mungkin dia sedang sibuk atau kamu hanya selisih jalan sama dia”.
“Nggak mungkin, Dri. Aku sudah ke rumahnya, koq. Barangkali dia menghindar dari aku, ya !”
“Tuh, kan mulai lagi deh kamu berprasangka buruk. Itu nggak baik”.
“Soalnya Adi dikangenin nggak mau. Kamu tahu aku kan ? Kalau aku rindu dan orang yang aku rindu nggak ada, aku selalu mengubur rinduku itu. Makin lama waktunya lewat, akau makin nggak mau membicarakannya lagi. Aku anggap sudah nggak ada rindu lagi”.
“Kamu harus makin sering menyabarkan hatimu, Nil. Orang sabar itu selalu dikasihani Allah…..”.

**********

Ketika Adi datang ke rumah Nunil seminggu kemudian, setelah Nunil menelepon Edri, perasaan Nunil buat Adi biasa-biasa saja. Dia nggak kesal, dan nggak kangen sama Adi.
“Kamu nggak kangen saya, Nil ?”
“Sudah nggak, tuh !”
“Koq, bisa begitu ?”
“Entah, ya. Itu diluar kehendakku”
“Oh, Nunilku. Kamu pasti masih mendidik marah pada saya, ya ?”
“Nggak tuh !”
“Saya kangen kamu, Nil ! Saya sayang kamu”
Lalu Adi menggandeng tangan Nunil. Cepat-cepat Nunil menepiskan tangan kokoh itu.
“Aku tahu…”
Malam harinya Nunil menelepon Edri lagi.
“Bayangkan, Dri…. Aku sudah nggak punya kangen lagi. Pun ketika ia muncul di depanku. Boro-boro kangen, digandeng saja aku nggak mau !”
“Kamu nggak boleh begitu, Nil. Kamu terlalu dihantui oleh perasaan kamu sendiri. Koq, sulit amat buat memaafkan kesalahan orang. Coba pikirkan lagi deh. Adi kan bukan orang lain buat kamu”.
“Justru itu ! Aku nggak enak dong, kalau cuma pura-pura sayang sama dia”.
“Cuma karena begitu, kamu jadi nggak sayang lagi ?”
“Pokoknya aku telah kehilangan segala rasa sayangku pada Adi, Dri. Aku sudah lelah……….”.
Hening di seberang sana. Edri menunggu kelanjutan pembicaraan Nunil.
“Edri, apa benar ya, kalau kita kehilangan rasa kangen itu artinya kita sudah nggak sayang lagi sama orang yang kita cintai ?”
“Entah ya, Nil. Aku kan belum pernah mengalami seperti kamu itu”.
“Aku telah membohongi Adi, Dri. Sebenarnya sudah lama rasa sayangku itu habis. Sejak dia mulai tidak memperdulikan aku lagi”.
“Nunil, apapun yang akan kamu putuskan, kamu harus yakin benar akan semua tindakan itu, nggak cuma karena emosi. Itu saja. Rasanya aku sudah pernah bilang tentang hal ini kan ?”
“Sudah, terima kasih ya, Dri”.

**********

Gadis itu melangkah buru-buru dari pelataran pertokoan ‘Puncak’ di jalan Suprapto, menuju wartel di seberang jalan. Dengan langkah-langkah panjang dia menyeberang bersama penyeberang jalan lainnya di atas zebracross pada saat keadaan sudah aman. Ketika posisi Nunil masih tepat di median, tiba-tiba terdengar suara orang memanggilnya.
“Nunil ! Nunil ! “
Adi dari arah seberang melambaikan tangannya. Setelah melihat siapa yang memanggilnya Nunilpun membalas lambaian Adi.
“Kamu mau kemana, Nil ?”
“Ke wartel, Mas !”
“Mari aku antar”
Adi langsung menggandeng Nunil pergi menuju wartel yang tidak begitu jauh dari tempat mereka bertemu.
“Mau telepon siapa ?”
“Pertama mau menelepon Arief, terus mau nge-fax formulir lomba cerpen dan puisi ke Edri. Aku sudah janji”
Meski sedikit kaku gara-gara ingat pembicaraan dua minggu yang lalu tentang perasaannya terhadap Adi, Nunil mencoba menikmati saat-saat dia jalan bersama Adi.
Setibanya di wartel, Nunil langsung masuk ke ruang telepon yang kosong. Sementara Adi menunggu di ruang tunggu yang tersedia di wartel tersebut. Kemudian setelah Nunil selesai menelepon dan ketika hendak keluar, ia melihat Adi sedang terlibat dalam pembicaraan dengan dua orang gadis yang tidak ia kenal. Nunil tidak peduli. Dan langsung menuju meja operator menyerahkan formulir untuk di fax ke Edri. Agak lama proses faksimili tersebut, namun Adi masih tidak bergerak dari tempatnya, sepertinya ia lupa kalau telah pergi bersama Nunil. Namun Nunil tetap tenang. Dan setelah proses fax-nya selesai, Nunil tidak beranjak dari tempat ia berdiri dan ia memanggil Adi untuk pamit.
“Mas, aku duluan ya !”
“Eh, Nunil ! Tunggu !!!”
Secepat kilat gadis itu keluar dan berlari meninggalkan Adi yang juga tidak sempat bilang apa-apa untuk menghalangi Nunil pergi.

**********

“Selamat malam……..”, Nunil menyapa setelah dia mengangkat telepon.
“Malam, ini Nunil, ya ?”
“Oh, kamu Mas”, Nunil segera mengenali suara Adi di seberang sana.
“Ada apa ?”
“Saya ingin menjelaskan kejadian siang tadi”
“Ah, nggak perlu koq, Mas. Semuanya sudah jelas bagiku……”
“Dengar dulu, Nil……”
“Nggak mau, aku tahu pasti Mas akan bilang adalah sulit bagi seseorang buat mengubah pandangannya tentang sesuatu yang sudah biasa dialaminya. Aku kenal betul siapa Mas !”
“Nunil…..”
“Biar kamu tahu, Mas ! Aku sejak dari awal sayang sama Mas, tapi bukan dengan kelakuanmu yang tidak terpuji itu”
Kata Nunil tegas sambil menahan gejolak emosinya.
“Saya tahu”, Adi menghela napasnya. “Maafkan saya, Nil. Kalau cemburu saya sudah kelewatan. Dan kelakuan saya yang menurutmu tidak adil terhadapmu”
Nunil diam sejenak. Dia harus tegas dalam mengambil keputusan.
“Sekarang saya mengerti semuanya, Nil”, Adi mencoba sabar. “Bagaimana kalau kita coba lagi, Nil ?”
“Nggak perlu. Aku sudah lelah”, Nunil memegang dahinya. “Aku sudah terlalu lelah. Aku ingin semuanya berakhir………”.
Tanpa menunggu kalimat Adi, Nunil memutuskan hubungan teleponnya. Tak lama kemudian, ia menekan nomor telepon Edri.
“Ternyata aku benar, Dri. Aku langsung kehilangan kangen, itu berarti aku sudah nggak sayang lagi sama orang yang seharusnya aku kangenin………”
“Kamu ngomong apa sih, Nil….. ?”
“Aku sudah resmi bubaran sama Adi barusan, Dri. Besok aku telepon kamu lagi ya ? Sekarang aku sangat lelah…..”.
“Halo, halo………..” , Edri masih memanggil-manggil waktu Nunil buru-buru meletakkan gagang teleponnya.
Gadis berambut pendek itu langsung membaringkan dirinya di atas kasur. Setelah selesai menelepon Edri sahabatnya yang paling baik saat ini. Pandangannya bertatapan sama foto Adi yang tersenyum di dekat lampu tidur sudut kamar. Ia mengingat-ingat kembali saat pertama kali bertemu dengan Adi.
Sementara udara di luar rumah menjadi sangat dingin dan hujan yang sejak sore tadi turun merintik, saat ini menjadi deras ditambah tiupan angin yang agak kencang.
Nunil memejamkan matanya. Mencoba tidur sampai terlelap ke ujung mimpi. Adi masih tersenyum dalam bingkai foto.

(Edy Nawir)

___________________________________________________
DESA RANGKAT  menawarkan kesederhanaan cinta untuk anda,  datang, bergabung  dan berinteraksilah bersama kami (Klik logo kami)
13013791301221151128

PRASANGKA

13002118931995883146Pusing! Pusing! Sudah dua hari ini, Yanti bikin penasaran. Kemarin siang waktu kujemput sekolah, wajahnya sudah distel macam Dewi Jepang lagi ngambek. Suram, nggak ada senyum sedikitpun! Semua pertanyaanku cuma dijawab dengan isyarat atau cuma dengan kata sepatah. Gombal!

************

Dan tadi siang waktu kujemput lagi, penasaran itupuin masih nongkrong juga dibenakku, malah makin seru. Aku jadi betul-betul bingung. Soalnya nggak merasa bikin dosa sih. Apalagi setelah melihat mama di rumah rasanya jadi tambah bingung sendiri. Bilang, jangan! Bilang, jangan! Mau bilang, tapi rasanya lidah jadi kelu. Waduh, gimana nih caranya buat ngomong?
Aku nggak mau kalau mama jadi sedih. Dan aku paling takut kalau mama sedih. Soalnya bisa-bisa mama jadi sakit. Apalagi mama punya penyakit jantung. Wah ini bisa berabe. Gimana aku nggak bingung terus? Bayangin aja!

************

Hari Rabu yang lalu, aku pergi sama Yanti ke Duta Merlin.
“Eh, bukankah itu papamu?” Yanti menyentuh lenganku. Ya, memang aku melihat papa keluar dari tempat parker sambil menggandeng mesra seorang cewek bertubuh semampai dengan rambut terurai sampai bahu. Mana cantik lagi. Gila!
“Siapa dia?” tanya Yanti lagi.
“Ooh, itu…… saudara sepupuku.”
Padahal aku juga lagi bingung mikir, siapa cewek yang digandeng papa itu. Sebab setahuku nggak ada saudara sepupuku yang punya model kayak begitu.
“Yuk, …..kita kesana,” Yanti menarik tanganku
“Lho, ngapain?”
“Aku mau kenal dengan sepupumu itu.”
“Ala, nggak usah ah! Kapan-kapan aja deh.”
“Aah, ayo dong sekarang aja,” Yanti mendesak.
“Jangan ah, kan jadi nggak enak nanti.”
“Kenapa jadi nggak enak? Itu kan papamu sendiri”
“Nggak ah, nanti aja. Besok kan bisa! Kalau sekarang nanti filmnya keburu main,” aku masih bertahan mencari alasan.
“Sebentar aja deh!”
“Nggak mau aha, yuk kita nonton!” aku tetap bertahan.
“Kau ini kenapa sih. Tumben-tumbenan. Biasanya aku minta apa aja, kau turuti. Sekarang mau ketemu papamu aja nggak mau. Kalau begini aku nggak jadi nonton ah. Aku mau ngambek aja deh.”
“Eh, eh…..kenapa jadi begitu. Kayak anak kecil aja. Ini kan di jalan, malu dong sama orang-orang.”
Dan celakanya. Yanti benar-benar ngambek, bagaimana aku nggak pusing melihat dia kecewa.
“Oke deh, yuk kita kesana.”
“Nggak usah!”
“Tadi kan ngajakin?”
“Nggak. Aku udah ngerti sekarang!”
“Ngerti?”
“Ya…..!”
Lalu ngambeknya itu masih berlangsung sampai sekarang. Ditambah lagi, aku kalau lihat papa, uh…..rasanya keqi separuh mampus!

************

Hari sudah hampir jam lima sore. Untung nggak ada pekerjaan apa-apa. Aku harus bicara sama Yanti. Nggak bisa begini terus menerus. Harus cepat-cepat diselesaikan. Kalau nggak aku bisa bengong dimalam minggu nanti. Selesai mandi dan rapi-rapi, kukebut motor ke rumahnya. Diteras samping Yanti lagi baca A Dream from the night nya Barbara Cartland
“Yanti……….”
“Oh?”
Ya ampun……. Itu tampang masih juga macam Dewi Jepang lagi ngambek.
“Aku mau ngomong sama kamu, boleh kan?”
“Hmmm…..”
“Kenapa sih, kamu koq beberapa hari ini jadi dingin, tak acuh sama aku?”
Yanti tak menjawab. Ia malah seperti tak mendengar. Diam.
“Kenapa?”
Buset! Masih diam juga nih cewek.
“Bilang dong, kalau ada yang salah. Jangan suka ngambek-ngambekan. Kita kan bukan anak kecil lagi. Nah, katakan…. Kenapa?”
“Aku nggak suka ngomong sama pembohong,” katanya mulai membuka suara.
“Pembohong?”
“Ya….!”
“Jadi…..jadi kau menuduhku tukang bohong?”
“Lho!”
“Lho!Lho!? Nggak usah pura-pura deh. Aku sudah tahu siapa gadis yang dibawa papamu kemarin dulu”
“Itu kan sepupuku,” jawabku tenang
“Bukan! Kau tahu pasti itu. Dasar laki-laki punya sifat buaya!”
Astaga…..gawat nih! Kalau Dewi Jepang sudah meradang berkeluarlah tabungan kata-kata mutiaranya.
“Baiklah. Kalau memang itu bukan sepupuku, buat apa kita ributkan urusan orang lain?” sahutku kalem saja. Ini memang sudah sifatku. Sabar, tenang saja meski apapun yang terjadi.
“Aaaapa…..?!!! Orang lain? Itu papamu! Dan jelas bukan orang lain, tolol!!!”
Mati aku! Aku segede gini ditolol-tololin sama gadis seperti ini. Wah! Ini baru kejutan namanya.
“Iya…..ya…..Kamu memang betul, tapi kenapa kau memusuhiku?”
Dan akhirnya bola matanya yang bening dari gadis yang galak itupun berkaca-kaca.
“Habis……Aku takut.”
“Takut? Takut apa?” aku jadi tambah bingung saja.
“Takut kalau kamu juga nantinya jadi begitu”
Ooo…..rupanya itu yang membebani pikirannya selama ini. Manisku, kamu memang betul-betul gadisku yang polos dan hijau. Aku bangkit dan duduk ditepi kursinya. Lembut kupegang bahunya. Kutarik dalam pelukanku. Buku yang dipegangnya jatuh….dan dia tersendu dalam dekapanku.
“Dengarkan baik-baik sayang! Memang betul beliau adalah papaku. Tapi itu tidak berarti bahwa aku juga harus seperti beliau kan? Aku tetap akan mencintaimu sampai kapanpun, bahkan sampai akhir hayatku”
“Juga kalau aku nanti sudah jadi nenek-nenek?” tanyanya masih dalam tangis.
“Iya…..aku sayang kamu sehidup semati”
“Betul?”
“Ya, Yantiku. Sayangku padamu tetap abadi. Ia akan kubawa mati”
“Betulkah itu?”
“Betul.”
“Sumpah?”
“Ya, sumpah.”
Secerah senyum yang manis kembali terlukis diwajah itu. Kukecup bibir itu lembut. Awan mendung telah sirna terbawa angin yang lewat sore itu. Dewi Jepang yang ngambek itupun kembali menjelma jadi simungilku yang manis, manja dan lembut.
Yantiku! Kau harus tahu bahwa aku ini laki-laki. Aku tahu tanggung jawabku pada keluargaku cukup besar. Kini aku sedang berpikir, jalan mana yang paling baik kutempuh. Sudahlah, kamu tak perlu ikut-ikutan akan hal ini, juga jangan kau pikirkan. Biar aku sendiri yang memecahkannya. Nanti aku akan bicara baik-baik sama papaku di rumah. Nah aku pulang dulu….. besok kau kujemput.-
 
Edy Nawir - 1979
(Cerpen ini kupersembahkan khusus buat kekasihku : Rahmayanti)

G E M P A

1301651645535522645 
Di kota semarak yang hijau, indah dan damai, aku melaksanakan tugas bekerjaku diluar kota yang kesekian-kalinya. Tanpa terasa sudah tujuh bulan aku berada di sini. Sejak aku mulai menginjakkan kakiku di kota Bengkulu itu, pada akhir bulan Nopember 2000 sudah berkesan sekali. Dan tidak sesuai dengan bayanganku sebelumnya. Aku telah mengenal kota Bengkulu dari berita-berita surat kabar di Jakarta. Kota tersebut telah porak-poranda akibat gempa tektonik yang terjadi pada tanggal 04 Juni 2000 yang lalu. Tetapi ternyata tidak terlalu seperti yang digambarkan oleh berita-berita itu. Walaupun memang banyak bangunan-bangunan yang rusak akibat gempa tersebut. Dan tidak sedikit korban-korban yang menderita karenanya. Tak ada yang dapat mengelak terjadinya peristiwa itu.

Ketika aku mulai melaksanakan tugasku di kota itu, pernah terbayang dalam benakku seperti apa sebenarnya kejadian gempa yang dahsyat itu ?! Dan ternyata akupun benar-benar mengalaminya, yaitu pada tanggal 16 Januari 2001 malam hari tepatnya jam delapan lewat tiga puluh menit telah terjadi gempa yang terus menerus sebanyak delapan kali dengan kekuatan enam koma lima scala richter. Dan dengan durasi yang agak panjang. Ada yang lebih dari satu menit, tidak seperti yang pernah aku alami sebelumya. Pada saat kejadian kulihat tetangga-tetangga disekitarku lari berhamburan keluar rumah. Sementara pada gempa yang pertama aku hanya terpana dan belum beranjak dari tempat tinggalku. Ketika sadar aku langsung lari keluar sambil berdoa. Getarannya sangat luar biasa dan aku benar-benar telah mengalaminya bukan bermimpi. Sehingga aku sempat terkejut dan rasanya tidak dapat kulukiskan. Kata orang-orang disini rasanya seperti dunia akan kiamat. Pengalaman pertamaku yang sungguh luar biasa. Subhannallah !
 
Peristiwa tersebut membuat warga kota Bengkulu dan sekitarnya menjadi trauma. Itu terlihat dari banyaknya orang-orang yang tidak mau masuk kedalam rumahnya masing-masing sebelum keadaan sudah benar-benar aman. Mereka membuka tenda di luar rumah atau lapangan. Gempa tersebut baru mulai menghilang setelah jam dua belas malam lewat tiga puluh menit, bersamaan dengan turunnya hujan lebat pada waktu itu.
Tanpa sadar akupun telah melupakan semua kejadian yang mengerikan itu dan terus bekerja melaksanakan tugasku sambil berdoa semoga kita semua selalu dilindungi oleh Allah SWT. Amin !

Pada saat senggang setiap seminggu sekali aku suka berjalan-jalan ke Pusat keramaian di Kota Bengkulu. Kadang pergi ke Pasar Minggu, Pusat Pertokoan di jalan Suprapto, Pasar Panorama, Baru Koto, Lapangan Tugu, dan ke Danau Dendam Tak Sudah. Atau aku pernah melihat-lihat museum rumah tempat kediaman mantan Presiden RI Pertama, almarhum Bung Karno selama masa pengasingan serta tak lupa pula aku mampir ke meseum rumah kediaman mantan Ibu Negara, almarhumah Ibu Fatmawati. Dan yang lebih menarik lagi, aku pernah menyaksikan 

Festival Tabot 2001, yaitu suatu acara festival kesenian dan kebudayaan khas Bengkulu yang selalu diadakan setahun sekali tepatnya setiap tanggal satu sampai dengan sepuluh Muharam. Dan acara tersebut selalu dipusatkan di Lapangan Tugu, dekat Gedung Daerah. Kebetulan acara 
Festival Tabot 2001 kali ini menurut orang-orang di Bengkulu merupakan acara yang paling meriah dari festival-festival sebelumnya. Karena pada acara Festival Tabot 2001 itu dihadiri oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Ibu Megawati Sukarno Putri. Aku sangat berkesan sekali melihat acara festival itu. Disamping baru pertama kali menyaksikannya, juga aku menganggap acara khas kota ini merupakan suatu kebanggaan masyarakat Bengkulu khususnya dan bangsa Indonesia umumnya. Maka aku pikir sudah selayaknya acara Festival Tabot tersebut yang merupakan aset kesenian dan kebudayaan bangsa Indonesia itu perlu dilestarikan, dibudayakan, dan diperkenalkan kepada dunia. Sehingga Propinsi Bengkulu tidak hanya terkenal karena gempa-nya saja, tapi juga terkenal karena kesenian dan kebudayaannya yang sangat khas.
 
Aku juga pernah melihat-lihat lokasi tempat bunga Rafflesia di Cagar Alam Taba Penanjung. Namun sayang hingga saat ini aku belum pernah melihat bunga itu mekar. Padahal biasanya menurut orang-orang di sini bunga Rafflesia tersebut selalu ada yang mekar setiap pertengahan tahun. Aku berharap mudah-mudahan masih dapat menyaksikan indahnya puspa langka mekar, bunga kebanggaan Propinsi Bengkulu itu sebelum aku pulang.
Dan pernah ketika musim buah durian pada bulan Pebruari/Maret 2001 aku pergi rekreasi bersama rekan-rekan sekerja, sambil membeli durian ke daerah Bengkulu Utara, atau Taba Penanjung, Kepahyang dan Curup serta ke Bengkulu Selatan, Manna dan Bintuhan. Semuanya sangat menyenangkan dan aku sungguh telah menikmatinya. Sehingga dapat menghilangkan rasa jenuhku selama ini. Dan juga telah melupakan kejadian gempa yang dahsyat itu.

Namun pada awal bulan Pebruari 2001, ketika itu aku sedang berjalan-jalan di dalam Pertokoan Barata jalan KZ. Abidin, aku dikejutkan oleh benturan yang lumayan keras menimpa diriku. Kupikir ada gempa lagi disini, karena memang aku juga agak sedikit trauma dengan gempa. Setelah sadar terrnyata yang terjadi bukanlah gempa. Tetapi seorang gadis telah menabrakku dengan tidak sengaja sehingga kami berdua terjatuh di lantai. Kulihat dia meringis kesakitan dalam jatuhnya sambil memegangi kakinya yang sebelah kanan. Sementara aku tidak merasakan sakit apapun pada tubuhku. Aku tidak mengerti kenapa tabrakan itu bisa terjadi. Yang jelas memang pada waktu itu aku sedang berjalan sambil melihat-lihat pakaian yang dipajang di dalam pertokoan. Dan konsentrasiku saat itu tidak tertuju pada gadis yang sedang berjalan dari arah yang berlawanan. Aku pikir gadis itupun pasti tidak melihatku. Sehingga peristiwa itu terjadi dan tak terelakkan lagi. Setelah terjatuh aku langsung berdiri dan menghampiri gadis itu.
“Oh, maafkan aku, dik !”, kataku tanpa sadar sambil memegangi kedua lengannya berusaha membantu dia untuk bangun dari jatuhnya. “Apa ada yang sakit atau terluka ?” tanyaku kemudian.
“Nggak apa-apa koq, mas ! saya yang salah, jalannya tidak hati-hati”, jawabnya masih mengusap-usap kakinya. Tak lama kemudian petugas Satpampun datang dengan membawa kotak P3K dan langsung merawat gadis itu. Aku juga ikut membantunya.
 
Kemudian setelah gadis itu sudah agak sembuh dan mulai bisa berjalan kembali walau sedikit agak pincang ketika berjalan, aku masih tetap menemaninya. Lama kami berdua saling berbincang, seperti sudah saling mengenal sebelumnya. Sehingga kami berduapun saling berkenalan.
“O, iya nama saya Tedy !”, kataku memperkenalkan diri sambil menyodorkan tanganku. Lalu dia menyambutnya dengan tersenyum.
“Saya Putri !”, jawabnya pendek sambil menyalamiku.
Putri ?! Wah ! Nama yang tidak asing lagi bagiku ! Tetapi aku tak ingat Putri yang mana yang kumaksud. Aku merenung sejenak, mencoba mengingat-ingatnya. Tak lama kemudian aku sadar bahwa namanya sama persis seperti nama pemain utama sinetron Harga Diri di televisi swasta yang selama ini aku ikuti. Sejak aku bertugas di Bengkulu ini aku jadi gemar menonton televisi khususnya acara sinetron. Karena memang cuma itu hiburan satu-satunya yang dapat aku nikmati pada malam hari sebelum beristirahat tidur. Padahal kalau di Jakarta, belum pernah aku mengikutinya sampai tuntas semua acara-acara televisi. Kecuali Siaran Berita, Siaran Langsung Pertandingan Sepak Bola, Tinju, Balap Mobil Formula 1 atau Motor Grand Prix dan Siaran Olahraga lainnya, serta Film Lepas Barat yang bagus tentunya.
 
“Kalau Mas Tedy tinggal dimana ?”, tanyanya membuat kuterusik dari lamunanku.
“Oh, di Jalan Kapuas 4/52 Lingkar Barat ! Kalau kamu dimana?”, aku balik bertanya.
“Di Jalan Sudirman II Pintu Batu No. 15 !”
“Di daerah mana ?”
“Disitu, nggak jauh koq dari sini !”
“Kalau begitu, boleh aku mengantarmu sekarang”
“Tentu saja boleh, ayo !”
 
Akhirnya akupun langsung mengantar Putri kerumahnya. Lega rasanya hati ini setelah tadinya aku pikir justru dia akan marah dan tidak senang denganku atas kejadian itu. Aneh !
Kejadian tersebut sepertinya biasa-biasa saja, tetapi menurutku tidak demikian. Aku telah mencoba berpikir keras tentang peristiwa yang telah terjadi pada diriku. Tanpa sengaja aku bisa bertemu dan berkenalan dengan seorang gadis manis periang, berperangai ceria dan lembut. Aku ingat tangannya terasa lembut namun sedikit dingin seperti es, ketika aku menyalaminya. 

Kelihatannya ia begitu gembira menyambutku. Sering kudengar suara tawanya yang lepas saat bersenda gurau. Dan kulihat seperti ada sesuatu yang tersembunyi di bola matanya yang indah pada saat pertama kali bertemu. Kemudian waktupun tetap berlalu dan dunia tetap berputar seperti biasanya…………

Setelah kejadian itu, akhirnya kamipun sering bertemu dan saling bersahabat. Peristiwa tersebut rasanya takkan mungkin dapat kulupakan. Sejak pertama kali bertemu pada awal bulan Pebruari 2001 lalu sampai dengan saat ini, kurasakan sangat berkesan. Sangat menyenangkan hatiku. Belum pernah aku mengalami peristiwa aneh seperti itu. Sungguh sangat menarik ! Rasanya bagaikan menemukan sebuah batu permata yang sangat besar dan perlu pemikiran khusus untuk memecahkannya. Mungkinkah ini sudah menjadi takdirku ?!

Pada suatu hari aku pernah mengunjungi rumah Putri. Sebelumnya aku berjanji dahulu melalui telepon untuk datang kerumahnya setelah pulang kerja. Namun ketika aku sudah tiba di depan rumahnya, kulihat keadaan rumah tersebut tidak seperti biasanya. Sepi !
“Assalamu’alaikum….”, aku mengetuk pintu rumahnya yang berwarna hijau cerah.
“Waalaikumsalam….”, terdengar jawaban suara seorang pemuda dari dalam rumah yang kemudian membukakan pintu buatku.
“Putri ada, dik?”, tanyaku
“Oom siapa ya?”, katanya tanpa menjawab dulu pertanyaanku.
“O,iya perkenalkan saya Tedy! Adik siapa?”
“Saya Arief, Oom! Adiknya Putri. Mari silahkan masuk!”
“Terima kasih! Saya mau bertemu sama Putri, ada?”, kataku hanya berdiri di depan pintu.
“Oh…Mbak, belum pulang Oom”, jawabnya.
“Kalau begitu tolong sampaikan saja bahwa saya sudah datang dan mungkin nanti saya akan meneleponnya, terima kasih !”, kataku langsung melangkahkan kakiku.
 
Aku pulang dengan perasaan gelisah dan tidak berusaha untuk mencari di tempat kerjanya. Karena kupikir sebelumnya dia sudah mengiakan untuk bertemu di rumahnya. Jam tujuh lewat tiga puluh malam aku meneleponnya, tapi tidak ada jawaban. Dan kuulangi sampai beberapa kali hingga jam sepuluh lewat, namun tetap tidak ada di tempat. Perasaanku menjadi resah dan matakupun tidak dapat dipejamkan. Aku tiada berdaya.
“Permainan telah dimulai”, gumamku.
Namun keesokan harinya aku telah berhasil menguasai diriku kembali. Tidak terpengaruh oleh kejadian kemarin, sehingga aku tetap dapat melaksanakan tugas-tugasku dengan baik. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa dengan diriku.
 
Beberapa hari kemudian Putri menemuiku dan minta maaf atas kesalahannya karena tidak memberitahuku kalau ia ada keperluan yang mendadak waktu itu. Aku langsung memaafkannya dan tak mau membahasnya lebih panjang lagi. Karena bagiku yang penting dapat bertemu dengannya. Itu saja cukup. Lalu kamipun terlibat dalam perbincangan yang sedikit serius. Memang setiap berjumpa aku selalu mendiskusikan tentang apa saja. Kadang dia mengeluarkan uneg-uneg dan aku dengan senang hati langsung membahasnya santai tapi serius. Kulihat Putri sangat menyukainya. Karena setiap terjadi dialog dia selalu bersemangat, berharap mendapatkan solusi dari hasil pembicaraan itu. Lalu tanpa sadar ia telah mulai membicarakan problem dirinya sendiri. Akupun jadi tambah respek, sehingga akhirnya mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.
 
“Sudah dua tahun, mas ! Putri nggak pernah punya sahabat laki-laki !”
“Jadi sekarang aku ini orang pertama ?” Dia mengangguk lemah. Akupun terharu mendengarnya. Bagaimana tidak ! Karena ternyata kekasihnya telah menghianati cintanya dan pergi dengan wanita lain yang ternyata wanita itu adalah sahabat dekatnya sendiri. Kurang ajar !
Kejadian-kejadian tentang kedukaan, kesedihan, keharuan, kegembiraan dan kebingungannya, yang kuterima selama ini akan aku simpan baik-baik dalam file-ku, karena semua itu bagiku sangatlah bermanfaat. Aku telah berpikir keras mencari solusi tentang masalah Putri. Sangat sulit memang, tapi aku yakin pasti dapat dipecahkan. Bukankah semua itu akan bisa karena biasa ?
Semuanya berjalan dengan cepat dan aku baru sadar akan semua ini. Karena tidak dinyana kenapa bisa terjadi pada diriku. Belum pernah terpikirkan olehku untuk menginginkannya setelah pertemuan itu. Namun entah kenapa diriku ini. Setiap melihat dia atau mendengar suaranya selalu merasakan gempa dalam jantungku. Apalagi bila dia menatapku. Mungkinkah ini terjadi karena gempa dahsyat yang telah kualami ?
 
Berkali-kali kucoba berusaha untuk menutup pintu hatiku ini. Tapi bila kembali bertemu atau mendengar suaranya lagi perasaan itupun selalu menghantui dan mengejar diriku. Sampai-sampai aku nyaris gagal menahan emosiku dan berupaya keras untuk meredam semua gejolak jiwa ini. Gila !

Pernah pada suatu hari libur sekitar pertengahan bulan April 2001, aku pergi ke Pantai Panjang bersama Putri. Berjalan santai berdua di pesisir pantai yang agak ramai waktu itu. Lalu akhirnya duduk ditepi pada batang pohon yang telah usang. Melihat ombak yang selalu menderu. Mengamati anak-anak kecil yang sedang mandi dan bermain di pantai. Tetapi setelah itu aku benar-benar benci dengan diriku sendiri. Karena ketika itu aku hanya diam saja dan membisu serta tak dapat bicara di depan Putri. Sudah terlambat !

Selama dekat dengannya belum pernah aku membicarakan masalahku. Namun ketika aku tahu kalau Putri sangat menyukai puisi. Aku langsung menulisnya sekaligus menuangkan perasaanku. Hampir setiap hari aku menyempatkan diri menggoreskan penaku membuat kata-kata indah untuknya. Secara bertahap kulihat adanya perubahan pada dirinya setelah membaca puisi-puisiku itu. Dan kalau tidak salah sudah empat puluh puisi yang telah kuberikan padanya. Luar biasa ! Hebat !
 
Tiba pada waktunya Putripun mengetahui tentang diriku. Lalu ia langsung memberi pernyataan kepadaku.
“Mas, Putri ingin kita hanya bersahabat saja, anggap saja aku adikmu dan tentunya mas, kakakku. Oke!”
Katanya dengan tegas, ketika menjelaskan tentang perasaanku itu di rumahnya. Aku hanya mengangguk tenang, padahal aku sendiri sangat heran dengan pernyataan itu. Karena aku belum pernah mengatakan secara khusus bahwa aku telah mencintainya. Aneh !
“Biarlah hubungan kita ini sebatas sahabat yang dapat saling berbagi suka dan duka. Bukankah demikian, mas ?” Begitu pula katanya dalam surat yang telah aku terima pada akhir bulan April 2001.
“Kalau memang itu yang kamu rasakan selama ini, aku pikir kamu nggak perlu khawatir, dik! Karena bila ternyata aku ini mencintaimu bukan berarti aku harus memilikimu!” Kataku tegas mengomentari pernyataannya itu. Entah, aku tidak mengerti kenapa begitu lancar mengucapkannya. Dan ternyata itu membuat Putri terharu.
Tetapi aku tidak mau memperdebatkan masalah tersebut, karena disamping aku masih bingung dengan diriku sendiri, juga aku telah berjanji untuk membantu keadaannya yang sebenarnya sangat memprihatinkan, sehingga dengan tenang aku berusaha melaksanakan terapi bagi dirinya.

Sebenarnya secara tidak langsung terapi tersebut sudah aku lakukan sejak pertama kali aku mengenalnya. Yaitu aku mulai mengalihkan perasaan trauma yang selalu membayangi Putri sebelumnya, dengan menguasai dirinya dan melindunginya. Seolah-olah aku telah masuk kedalam jiwanya. Mengisi kepribadian yang suci, dengan kejujuran, kebenaran, dan tujuan hidup. Dan ternyata secara tidak langsung pula terapi itu direspon dengan baik oleh Putri, sehingga kuanggap sudah sesuai harapanku.
Dari hari ke hari aku selalu mengamati proses perubahan-perubahan yang terjadi. Air mukanya yang cerah dalam minggu ini telah menghapus semua kekhawatiranku. Ternyata kamu telah benar-benar berubah. Alhamdulillah !
“Mas, aku tadi habis potong rambut ! Nggak apa-apa kan? Cantik koq, mas!”, katanya ketika aku menelepon ke rumahnya. Aku telah menikmati rasa kegembiraannya yang bukan semu lagi.
Justru perubahan inilah sesungguhnya yang menyebabkan aku nyaris tidak dapat menahan diri. Gempa yang terjadi pada diriku semakin menjadi-jadi, seakan tidak pernah mau berhenti. Apalagi bila mengingat kata-katanya yang sampai saat ini masih terngiang di telingaku.
“Mas, kenapa kita baru bertemu sekarang ya ?”
Katanya dengan perasaan haru setelah dia mengetahui diriku yang sebenarnya. Serasa terbang kumendengarnya. Dan waktu itu aku hanya menggelengkan kepala sambil mengangkat kedua bahuku. Tetapi kemudian dengan besar hati aku mengomentari pertanyaan Putri.
“Biarkanlah semua itu, dik ! Mungkin sudah Takdir ! Dan kita nggak boleh memaksakan kehendak ! Berdoalah agar kita selalu dilindungi oleh Allah SWT”.
Lalu kulihat Putri hanya menunduk diam setelah itu.

Akhirnya perasaanku kini baru mulai reda setelah aku mendengar bisikan lembut dalam mimpiku yang menurutku sangatlah kejam tapi secara logika amat bijaksana. Emosi tidak boleh menguasai diriku. Aku harus berusaha mengantisipasi semuanya. Agar tidak merasa selalu dikejar-kejar, dihantui, dan diganggu terus menerus. Aku tidak boleh membencinya, merasa kecewa, kesal dan sakit hati karenanya. Secara perlahan-lahan harus menjauhinya, memberi kesempatan pada yang lain. Aku harus merasa trauma bila kerumahnya, atau trauma bila menghubunginya lewat telepon, apalagi menemuinya langsung. Dan Putri tidak boleh mengetahui tentang ini. Mampuslah aku !
 
Kemudian setelah melalui pertimbangan yang matang aku memutuskan untuk mencoba melaksanakan puasa selama satu minggu. Aku berusaha untuk melupakannya untuk selama-lamanya. Ternyata cukup berhasil !

Pada akhir bulan Mei 2001, aku memutuskan untuk kembali melaksanakan terapi, namun kali ini untuk diriku sendiri. Awalnya kumulai dengan mengingat-ingat beberapa kejadian ketika bersama Putri. Lalu secara perlahan aku berusaha untuk menyadarkan diriku dari perasaan-perasaan yang tidak logika. Sejak saat itu aku selalu menjaga jarak dengan Putri. Sehingga akhirnya rasa gempa dalam jiwakupun mulai menghilang. Semuanya hanya akan menjadi kenangan yang indah dan menakjubkan. Lahaulawalakuwataillabillah !

Setelah semuanya aku jalani dengan apa adanya. Ternyata mempunyai kenikmatan tersendiri. Dan aku telah mendapatkan semuanya itu di kota ini. Dari terjadinya gempa yang mendatangkan kesengsaraan hingga gempa yang membuatku menjadi bahagia karena bisa saling berbagi suka dan duka terhadap sesamanya. Ternyata dengan terjalinnya persahabatan tersebut aku dapat melaksanakan tugas-tugasku dengan baik. Sekaligus aku dapat melupakan kejadian gempa yang benar-benar dahsyat dan mengerikan itu.
 
Kini aku mulai mengerti semua hikmah yang aku alami. Bila semua ini karena takdir, dan kenapa terjadi pada diri kita ? Jawabannya adalah karena Allah SWT sangat sayang kepada kita. Sudah dapat dipastikan bahwa semua kejadian di dalam kehidupan ini selalu ada hikmahnya. Dan kita harus selalu ingat bahwa sesungguhnya kita tidak dapat mengelak apa yang akan terjadi pada diri kita. Maka alangkah baiknya kita nikmati saja semuanya itu. Karena dengan begitu dapat memberikan keyakinan bahwa Allah SWT selalu melindungi kita. Hanya kepada Tuhanlah kita memohon dan mengharap. Dan selama kita masih dapat memberikan pertolongan terhadap sesamanya dengan kemampuan yang ada tentunya , kita harus melaksanakan nya dengan tulus dan ikhlas.

Akhirnya aku telah mengikhlaskan semuanya dan perasaan gempa dalam jantungku saat ini benar-benar sudah tidak ada lagi. Kamipun berdua saling memaafkan. Putri juga sudah merasa plong hatinya. Walaupun merasa sedih hatinya karena sahabatnya akan segera meninggalkan dirinya.
Setiap ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Tentunya kali ini perpisahan yang sangat indah. Karena akan selalu terkenang seumur hidupku. Akupun berdoa kepada Allah SWT agar kita tidak mengalami gempa yang lebih dahsyat lagi, dan semoga amal ibadah kita selalu diterima oleh Allah SWT. Serta melindungi perjalanan pulangku ke Jakarta untuk kembali menemui keluargaku yang sangat aku sayangi dan cintai disana. Amin !
 
Selamat tinggal Gempa ! Selamat tinggal Sahabatku !
Aku titip cinta untukmu
Bila telah tiba waktunya untuk berpisah
kita akan sadari semuanya
karena kita mempunyai sedikit perbedaan
biarkanlah cinta itu tetap ada selamanya ……….
membasuh seluruh duka nestapa
hingga air mata telah membasahi pipi
kutitip cinta dalam langkahmu ……………………………….
 
Edy Nawir - 2001
(Cerpen ini kupersembahkan khusus buat kota Bengkulu
yang pernah dilanda Gempa pada tahun 2000)

CERITA CINTA DI SMU ST. CAROLUS

Suasana di SMU St. Carolus - Bengkulu hari ini tidak seperti biasanya. Pada jam belajar terlihat anak-anak kelas III IPA berpestapora. Karena ada dua jam pelajaran kosong. Pelajaran matematika, guru pengajarnya tidak hadir. Mereka ada yang nongkrong di kantin sekolah, ngegosip, ada juga yang asyik berseliweran di selasar kelas yang sepi. Tentu saja sambil ngintip-ngintip dan meledek anak-anak lain yang sedang belajar. Tapi itu mereka lakukan dengan sembunyi-sembunyi. Soalnya bila diketahui oleh kepala sekolah atau salah satu guru saja, mereka harus rela melepaskan jam kosongnya.

“Rahmat ! Gimana tuh kelincimu ? Katanya sakit ?” Teriak Nisa
“Sudah sehat tuh ! Kamu naksir, ya ? Cepetan aja deh ! Nanti keduluan kucing tetanggaku, lho !” selorohku.
“Enak aja kau ngomong ! Gini, Mat. Kalau kau rela, si Sayidi anak kelas II B mau pinjam piaraanmu itu untuk penelitian.”
13002100971600838428“Hah ! Itu sih bukan dipinjam lagi. Tapi pembunuhan yang sangat direncanakan !”
“Hey, Susi !! Kembalikan buku itu !” Tiba-tiba Biyan berteriak.
“Sebentar dong, Bi ! Aku cuma mau meresensi puisi-puisimu, koq”
“Sus cepat dong ! Ngapain sih buka-buka rahasia orang ?!”
“Indahnya cita putih ……….” Susi mulai beraksi dengan gayanya. “Bagaikan bunga Kamboja yang tumbuh di kuburan bibiku…..hih ! Koq, seram amat sih, Bi ?!” Susi bergidik.
“Makanya…kembalikan !”
“Pengumuman…! Pengumuman…!”
Sunaryo mulai berkoar di depan kelas. Semua yang ada di dalam pada pasang kuping kanan kiri dengan sigap.
“Berhubung kita sekarang ini berstatus penganggur, bagaimana kalau kita merayakan ulang tahun Andri yang dua bulan lagi genap delapan belas tahun !”
Anak-anak bersorak tanda setuju dan segera merubung Andri yang gelagapan dan shock berat. Tetapi mendadak suasana menjadi sepi dan kaku, karena secara tiba-tiba Pak Jemi muncul dengan garangnya.

“Kenapa diam !” tantang Pak Jemi dengan mata melotot. “Begitukah tingkah para calon mahasiswa ? Seperti tak punya perasaan dan sopan santun saja ! Kalian ini orang terpelajar, tahu nggak ! Seharusnya peka dengan keadaan sekitarnya. Coba lihat ! Sebelah kelas kalian sekarang sedang ulangan ! Apakah kalian tidak kasihan ?!” Pak Jemi menatap seisi kelas satu demi satu.
“Jam pelajaran siapa sekarang ?”
“Pak Yuliarso, pak !” aku memberanikan diri untuk menjawab.
“Cepat lapor guru piket dan minta tugas !”

Pak Jemi langsung kembali menuju kelas sebelah dengan muka merah padam. Dan dapat ditebak, anak-anak mulai saling menyalahkan dan merasa paling benar sendiri.
“Rahmat !”, ada yang berteriak memanggilku saat bubaran sekolah. Ternyata Novi tetanggaku anak kelas I A.
“Mat, pulang sama-sama ya ?”
“Lho ! Mas Yoyok nggak jemput ?”
“Nggak ! Dia kuliah”
“Oke lah ! Tapi ikut muter-muter nggak apa-apa kan ?”
“Kemana ?”
“Biasa…..ngurus bisnis”
“Iya deh…! Tapi kalau aku dimarahin ibu, kamu yang tanggung jawab lho !”
“Gampang ! Pokoknya aku kan nggak menculik kamu !”
“Ye ! Siapa tahu kamu bersekongkol dengan penculik liar”
“Salah kamu sendiri. Kenapa mau ikut ?”
“Curang kamu !” Novi mencubitku dengan gemasnya. Aku menjerit-jerit kesakitan.
“Mat…..! Aku semalam didatangi pemuda namanya Jumali” Novi membuka pembicaraan saat kami beristirahat membeli es campur di tempat Uni Yanti.
“Terus…kenapa ?”
“Orangnya sih cakep and ganteng lagi. Dia kukenal waktu ada Festival Tabot 2001 yang lalu”.
“Kamu suka ?”, aku memancing. Novi meratapku aneh dan menggelengkan kepalanya.
“Kenapa ? Koq aneh ?”, tanyaku. “Dia kan ganteng !”
“Nggak, Mat ! Bukan itu yang kucari……”
“Lalu apa maksudmu cerita ke aku ?”
“Aku……aku, eh nggak usah saja. Aku nggak berani mengatakannya”
“Kamu ingin minta pendapatku tentang itu ?” Novi menggeleng menggelengkan kepalanya. Aku jadi curiga dengan perubahan sikapnya. Ada apa ini !
“Kamu sudah punya pacar, Mat !” Tiba-tiba kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Novi.
“Memangnya kenapa ?”
“Boleh kan, aku tanya itu ?”
“Kalau nggak boleh, bagaimana ?”
Novi sedikit kecewa. Mukanya merah padam menahan malu.
“Oke deh ! Koq, jadi serius begini sih !”, aku tersenyum, kemudian menyeruput es campur-ku sebentar.
“Begini, Novi ! Aku memang punya teman yang sangat dekat. Bolehlah dikatakan pacar. Karena aku memang membutuhkannya dan dia juga membutuhkanku. Tapi dia sekarang tidak ada di sini. Dia sedang berada di Jakarta, besok mungkin sudah kembali.
“Siapa dia, Mat !” Ada nada kecewa dalam suara Novi.
“Ita ! Kenapa ?”, tanyaku penuh curiga.
“Nggak apa-apa” Novi menunduk. Aku menjadi tahu apa yang dia rasakan sebenarnya. Tetapi aku diam saja, tak ada baiknya itu dikatakan.
“Yuk ! Kita pulang !”, ajakku.

**********

Sudah menjadi kebiasaanku, pagi-pagi aku selalu mampir dulu ke kantin sekolah Ibu Kardiono, sebelum masuk kelas. Sekedar sarapan saja. Habisnya nggak ada seninya kalau sarapan di rumah. Paling-paling nasi goreng lagi yang disediakan.
Di meja sebelahku ada Indah yang memandangi aku terus. Anak kelas II C ini sejak nongol di sekolah ini selalu ada perhatian ke aku. Ge-eR ! Tapi nyatanya juga begitu. Dan aku selalu tetap bersikap biasa-biasa saja padanya. Tapi risih juga kalau dilihatin terus.
“Koq, sendiri saja, Indah ?”, tanyaku sambil menenteng gelas dan piring penuh nasi santan plus empal.
“Iya nih nggak ada yang nemenin”. Dia tersenyum manis sekali.
“Beruntung ya, aku bisa nemenin”. Lagi-lagi Indah tersipu.
“Koq, GR sih ?”
“Nggak GR koq, cuma bangga !”, aku ngikik.
“O iya, kamu nanti mau masuk jurusan apa ?”
“Kalau bisa sih, IPA dong !”
“Wah ! Koq ngikut jejakku ?”
“Iya ! Biar kompak selalu sama Mas Rahmat”, Indah tersenyum malu.
“Ye…! Sebentar lagi kan aku sudah mau lulus”
“O iya, lupa !”, ganti Indah yang ngikik. Jelek amat dia kalau begitu.

Kemudian kami saling diam. Indah menyeruput teh hangatnya. Aku makan nasiku yang masih munjung dengan cueknya. Tak peduli tatapan Indah yang tanpa berkedip.
“Mas Rahmat koq sombong sih sekarang ?”. Tiba-tiba suara Indah mengganggu kenikmatanku.
“Sombong apaan sih ?”, sahutku setelah menelan satu sendok terakhirku.
“Kemarin sore, Indah panggil-panggil, Mas diam saja”
“Dimana ?”
“Di Simpang Sekip !”
“O…itu, koq aku nggak dengar kamu panggil-panggil tuh !”
“Benar-benar nggak dengar, apa pura-pura nggak dengar ?!”, Indah meledek.
“Benar koq, Indah ! Sorry deh ya”
“Itu yang kamu bonceng siapa sih ?”, tanya Indah ingin tahu.
“O…itu, adikku. Rahmasari namanya”
Raut muka Indah kelihatan lega.
“Koq setia banget sih sama adiknya ?”
“Iya dong ! Adik satu-satunya kan perlu disayang”
“Enak ya punya kakak Mas Rahmat. Setia banget”
“Memangnya kakakmu bagaimana ?”
“Indah nggak punya kakak, Mas !”
“Adik ?”
“Nggak juga”
“Jadi anak tunggal, ya ?”
“Iya”
“Kalau begitu, dimanja dong ! Apa-apa pasti dituruti ?”
“Nggak enak juga, Mas. Sepi !”

Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Anak-anak pasti dibuat keki berat dengan bunyi bel yang sok disiplin itu.
“Masuk, yuk !”, aku berdiri.
“Eh, sebentar dulu, Mas. Indah mau ngomong sedikit”. Indah ikut berdiri. “Begini ! Mas Rahmat nggak marah kan kalau Indah mengatakan sesuatu ?”
“Sebatas itu masih bisa kuterima, aku nggak akan marah”
“Benar ?!”
“Swerr”
“Sebenarnya…sebenarnya Indah…Indah suka sama Mas Rahmat”. Indah langsung kabur menuju kelasnya setelah mengatakan itu. Aku melonggo.

Pusing-pusing !!! Betul-betul aku nggak bisa konsentrasi dengan pelajaran pagi ini. Omongan Indah tadi ternyata sangat mengganggu pikiranku. Sebenarnya sudah jauh-jauh hari aku mengetahui hal itu dari teman-teman Indah sendiri. Tetapi setelah itu terjawab pasti, justru aku menjadi tak percaya diriku sendiri. Apakah aku masih bisa mempertahankan kesetiaanku ?
“Mat ! Ada surat nih ! Dari Novi”. Lisa menyerahkan lipatan kertas kepadaku.
“Terima kasih ya !”, jawabku. “Eh, Lisa ! Kamu mau tolongin aku nggak ?”
“Ngapain ?”
“Tolong kasih tahu Suryana, nanti sore aku nggak bisa ikut rapat. Karena ada keperluan penting, begitu”
“Oke Boss ! Tapi ada bonusnya kan ?”
“Beres !!”

Lisa segera keluar dari kelasku. Di dalam kelas sekarang cuma ada beberapa gelintir siswa saja. Memang kalau pas istirahat pertama begini, anak-anak lebih senang keluar kelas. Kubuka surat Novi dengan malas, isinya sudah dapat diduga. Tapi tetap penasaran juga hati ini.

Bengkulu, 12 Mei 2001
Rahmat ! Sebenarnya kemarin aku ingin terus terang sama kamu. Tapi aku malu. Dihadapanmu rasanya aku koq rendah banget. Tapi aku harus ngomong Mat ! Untuk mengeluarkan uneg-uneg ini.
Sudah lama sebenarnya perasaan ini kupendam. Aku mencintai kamu Mat ! Namun sekarang aku tak bisa berharap, kamu jangan memandang sinis padaku ya ? Anggap saja semua ini tidak pernah terjadi. Nggak usah dipikirkan kata-kataku dalam surat ini. Aku akan tetap menjaga perasaan kamu, juga perasaan Ita.
Terima kasih ya !
Novi / I A
 
Kulipat lagi kertas itu dan aku keluar menuju kelas II C.
“Indah ada ?”, tanyaku kepada cewek yang berada dekat pintu kelas.
“Tadi ada di perputakaan ! Cari saja disana !”
Tak banyak basa-basi aku langsung menuju Perpustakaan. Dan ternyata Irma memang ada disitu.
“Indah ! Keluar sebentar yuk !”. Indah kaget setengah mati dan menuruti ajakanku. Di tempat yang tidak begitu ramai, aku mulai membuka percakapan.
“Indah ! Tentang omonganmu tadi pagi membuatku kaget. Suprise banget ! Dan sempat membuatku ragu dalam mengambil keputusan. Aku memang tertarik padamu, Indah ! Tapi aku tak bisa menerimamu, karena aku sudah punya pacar”.
“Siapa ?” Indah menatapku berkaca-kaca.
“Ita ! Anak II D, kamu nggak tahu itu ?” Indah menggeleng. “Sekarang dia memang lagi nggak ada disini. Sudah sebulan yang lalu berada di Jakarta. Dan siang ini mungkin sudah kembali ke sini”.
Suasana menjadi kaku. Sama sekali tidak enak.
“Maafkan Indah, Mas ! Indah telah lancang !”
“Nggak apa-apa, Indah. Aku juga minta maaf. Aku maklum. Adakalanya kejujuran memang perlu. Walau kadang mendatangkan kekecewaan. Aku masih menghargaimu, Indah !”
“Terima kasih, Mas !”, suara Indah bergetar.
Lagi-lagi bel berbunyi tiga kali. Anak-anak tak dapat berbuat lain kecuali masuk kelasnya masing-masing.
“Indah masuk dulu ya, Mas !”
“Ya !” Aku tersenyum, juga Indah. Namun sinar kekecewaan masih tertangkap jelas dari bola matanya.

**********

Setelah bubaran sekolah aku langsung menuju ke rumah Ita. Disana aku telah ditunggu oleh Bang Wasta, kakak sepupunya Ita. Untuk menjemput Ita di bandara Padang Kemiling. Bersamaan dengan tibanya kami di bandara, pesawat dari Jakartapun telah mendarat dengan selamat. Aku langsung menuju ke ruang ‘Kedatangan’ di gedung bandara yang kebetulan saat itu sedang dalam pelaksanaan renovasi dan rehabilitasi. Oleh karena itu keadaannya terlihat sangat darurat. Dan konon menurut Pemerintah Daerah setempat, nama bandara Padang Kemiling ini nantinya akan diganti menjadi bandara Fatmawati. Sehingga aku pikir renovasi bangunan gedung tersebut, selain dalam rangka untuk pengembangan bandara guna meningkatkan pelayanannya, mungkin juga sekaligus untuk peresmian nama barunya itu. Mudah-mudahan dapat terlaksana.
Ketika aku sudah masuk ke dalam ruang tunggu, tak lama kemudian kulihat para penumpang mulai keluar menuruni tangga. Ita telah melambaikan tangan duluan ketika dia nongol dari badan pesawat.
“Brengsek kamu ! Aku sudah melambai-lambai dengan manisnya, kamu tetap bengong saja !”, omel Ita ketika dia telah berada di depan mataku.
“Sorry, non ! Habisnya kamu kelihatan kecil banget sih, dibanding dengan penumpang yang lainnya”
“Hu….! Dasar !”, Ita mencoba menjewer telingaku, tapi dapat kuhindari.
“Lho ! Ayah Ibumu mana ?”, tanyaku penasaran.
“Masih di sana. Ada keperluan yang lebih penting lagi”
“Untung kamu cepat pulang !”
“Memangnya kenapa ?”
“Aku nggak betah lama-lama nungguin kamu ! Banyak godaan !!”
“Tuh…kan ! Genitnya nggak hilang juga !”
“Lho ! Pokoknya aku tetap sama kamu !”
“Iya deh…!”, Ita mencibir.
“Eh, tuh Bang Wasta sudah nungguin dari tadi !”
Kami berlari-lari menuju mobil Kijang Super, sambil sesekali bercanda melepas rindu.
Siang ini kelihatan begitu cerah. Secerah wajahku menyambut Ita. Memang hanya perasaan yang dapat mewujudkan langkahku dengan pasti, bahwa aku benar-benar mencintai Ita.

Edy Nawir -
( Cerita pendek ini kupersembahkan khusus kepada YPKB - Bengkulu dan SMU St. Carolus Bengkulu )

Sabtu, 14 Mei 2011

SAJAK BUAT EVIE


…….Ketika mentari di atas ubun-ubun
debu bertebaran di tiup bayu
dua ekor burung gereja berkejar-kejaran
mengusik resah di siang hening.


……Seorang gadis berpakaian putih abu-abu
duduk sendiri di teras sekolah
kedua tangannya memegang sebuah buku
membuang-buang waktu……


Sambil menunggu Hendra, aku menyusuri teras sekolah yang membujur sepanjang kelas. Hari itu aku tidak langsung pulang kerumah. Walaupun pada pelajaran kelima, murid kelas III BG2 sudah keluar semua.
Ketika di depan kantor tata-usaha, kulihat Evi duduk sendiri di ruang tamu sekolah, asyik dengan buku ceritanya. Perlahan-lahan ku hampiri dia. Tapi tiba-tiba saja jantungku terasa berdenyut lebih cepat. Hatiku berdebar manakala langkahku semakian dekat. Ada sesuatu yang tidak kumengerti, mengapa tiba-tiba jadi begini. Ah, entahlah!
“Aduh, asyik bener nih ?”
“Hai! Bikin kaget saja kau”, Evi tersenyum mengurut dada.
“Koq belum pulang, nunggu jemputan ya?”, tanyaku sambil duduk di sebelahnya.
“Ya. Kau ngapain?”, dia berbalik bertanya.
“Aku nungguin Hendra nih!”.
“Ada urusan penting ya! Koq tumben sampai ditunggu segala”.
“Ah, nggak begitu penting, dari pada nganggur. Eh, buku apaan tuh?”
“A dream from the night”.
“Wah hebat! Aku menggumi pengagum B. Cartland”.
“Hmmmm….”Evi Cuma tersenyum manis.
Sejenak suasana hening. Persis kaya setan lewat kata orang-orang. Sementara hatiku deg-degan (dag-dig-dug). Entahlah!
“Hari ini panas sekali ya?” kataku memecah kesunyian.
“Iya nih, gerahnya bukan main” Evi mengiya setuju.
“Bagaimana kalau kita minum es cendol?”
“O…. ide yang bagus. Yuk…!” Evi tersenyum.

Kami berdua berjalan menuju cafeteria di belakang sekolah. Terus terang hatiku masih saja berdebar tak keruan. Di sana kelihatan sepi, tak ada pengunjung yang lain. Aku mengambil tempat berhadapan dengannya.
“O, iya kapan sih Kejuaraan Basket Jakarta Timur itu?”
“Mungkin dua minggu lagi. Ini baru mau di urus sama Hendra. Evi ikut ya!”
“Nggak ah, Evi nonton aja deh” katanya sambil tertawa. Aku juga ikut tertawa. 
Sebenarnya aku sudah tahu kalau Evi termasuk team inti sekolah kami. Barangkali dia juga sudah tahu kalau aku sudah mengerti, sehingga ia menjawab pertanyaanku dengan seloroh. Gila juga nih cewek!

Pesanan kami datang, lalu kami minum bersama melenyapkan dahaga karena panasnya hari itu.
“Eh, aku kemarin baca puisimu di majalah HAI yang baru”
“O, iya”
“Bagus deh! Sering buat puisi ya?” tanyanya sambil tersenyum. Oh senyumnya manis sekali. Aku senang sekali jika ia tersenyum seperti itu.
“Tidak selalu sering” kataku sedikit bangga.
“Tapi kata Joko kau sering nulis puisi di majalah-majalah”.
“Ah, nggak juga.Ngaco tuh si Joko. Lalu kau percaya?” tanyaku pura-pura.
“Iya! Tapi bener kan?”
“Hmmmm..., kalau bener, lantas kenapa?” akhirnya aku mengalah.
“Gimana sih caranya bikin puisi? Ajarin Evi dong?” tanyanya serius. Aku tertawa.
“Gampang koq, nggak diajarin juga bisa”
“Untuk sukses mesti diajarin dulu sama yang udah bisa. Nanti sesudahnya dikasih tahu, baru deh kerja keras sendiri!” bantahya
“Oke, sebenarnya mudah sekali” kataku merasa kalah. Si cantik ini memang cerdik.
“Mudah bagaimana? Kasih tahu dong!” rengeknya.
“Lho, koq jadi manja sih!” godaku setelah kulihat lagaknya seperti anak kecil saja.
“Aaaaa!” Evi mencubit lenganku. Aku meringis.
“Eeee….ee, aduh …..ampun deh lepasin dong! Sampai biru begini deh!”
“Ayo dong, ntar cubit lagi nih!” katanya sambil menggerakkan tangannya mau cubit lagi.
“E.... iya… iya begini, ya. Pokok utama Evi mesti pilih mau nulis apa. Mau nulis tentang anjing kesayanganmu atau mau nulis bunga keq. Nulis pohon, rumah, bintang dan nulis apa saja deh! Tapi yang sedang dalam pikiran Evi pada saat Evi mau menulisnya” kataku sambil meminum cendolku.
“Lalu?” Evi tak sabar.
“Kalau udah pasti apa yang mau ditulis, maka dengan satu kata….”
“Kasih contoh dong!” potongnya.
“Diam dulu, koq nggak sabaran sih?” aku pura-pura marah.
“Maaf deh pak guru” Evi tersenyum lebar. Mau nggak mau aku tersenyum juga. Gombal!
“Sebentar ya, aku buat dulu sedikit untuk contoh soal” kataku sembari mengambil kertas dan pulpen ditasku. Setelah itu baru aku menulis ;

……Siang hari di cafeteria
sepasang remaja sedang berbincang-bincang
tentang cinta…..
dengan segelas es cendol ditangan
sang pemuda bilang: -aku cinta padamu-
Sang gadis menunduk
mempermainkankan gelas minumannya
dengan wajah yang merah dadu
ia berbisik: -aku juga-……………..

“Nah ini contohnya baca deh!” kataku menyodorkan kertas itu tadi.
Belum sempat aku mengambil napas, Evi sudah menyemprot.
“Aa…..ngaco!” dan sebuah cubitan lagi mendarat dilenganku.
“Lho,kan sekedar contoh. Dibuang juga nggak apa-apa. Atau Evi merasa hal itu benar-benar terjadi?” Muka Evi jadi merah seketika. Tapi cuma sebentar.
“Aaaa….!Ngaco! Ngacoooooo!” Evi memulai lagi serangannya bertubi-tubi. Aku kewalahan. 
Namun bercanda itupun berakhir. Kemudian setelah kumembayar es pesanan kami tadi, kami jalan kedepan kembali. Ketika di samping sekolah Evi bilang:
“Nanti mau nggak buatin puisi untuk Evi?”
“Biasanya kalau cewek minta di buatin puisi sama cowok, itu ada maunya sama sicowok” kulirik reaksi Evi, tapi sialnya keburu kepergok. Aku tertawa.
“Ngaco lagi deh!” katanya cemberut.
“Habis muka Evi merah sih!” aku menggoda lagi.
“Aaaaa! Jangan konyol ah!” kembali dia menyerangku.
“Ah, kalau gitu Evi nggak cinta lagi ya?”
“Emangnya kapan Evi bilang cinta. Hmmm, enak aja” Evi mencibirkan bibirnya.
“Kan, tadi….” wajahnya tambah merah, belum selesai aku melanjutkannya, Evi sudah mengayunkan tangannya ke arahku. Aku mengelak. Kelihatannya dia betul-betul jengkel rupanya.
“Jangan marah nona manis. Aku kan cuma bercanda” aku menangkap lengannya.
“Habis kamu jahat sih”
“Iya deh. Aku sayang sama Evi” kembali aku menggoda. Evi diam saja. Seperti orang bisu. 

Akhirnya kami sampai di ruang tamu sekolah lagi. Evi duduk di tempat semula. Akupun juga. Kami berdua sama-sama membisu.
“Evi marah ya?” tanyaku coba-coba, tapi Evi tidak menjawab. Dia menatapku sebentar. Tatapan yang sukar diterka artinya. Lalu ia menghela nafas.
“Kalau marah, aku minta maaf deh!” kataku memohon dengan hormat. Tapi kulihat Evi tetap acuh tak acuh. Setelah agak lama, baru ia menoleh dan menatapku.
“Lupakan saja” katanya ketus. Aku menelan ludah. Sombongnya!
“Evi nggak marah kan?” kataku lagi.
“Nggak” dia menggelengkan kepalanya.
“Bener…..”
“Bener, nggak bohong koq!” katanya serius, seolah-olah mengumumkan perang. Tiba-tiba dia tersenyum. Aku merasa lega. Siasatku berhasil.
“Hei, koq ngelamun?” tanyanya mengejek masih dengan senyum. Aku menelan ludah. Dan ikut tersenyum.
“O, iya kalau Evi benar-benar pingin puisi-puisiku, ini baru ada segini. Terimalah. Memang sudah dari dulu aku buat, khusus untuk Evi” kuserahkan 4 lembar kertas ukuran folio. Kertas itu sudah lama menginap di tasku, menanti kesempatan baik.
“Aku tahu kalau Evi itu suka koleksi puisi-puisi” Evi menatapku dengan pandangan ngerti dan tidak. Tapi akhirnya dia bilang :
“Terima kasih temanku yang baik. Kau terlalu baik amat sih?” tanyanya lagi sambil membuka kertas puisiku tadi.
“Aku selalu ingat kau Vi” Evi menatapku lagi. Kali ini kulihat jelas matanya bersinar kebahagiaan. Lalu tersenyum lagi. Sudah jelas dan pasti buatku seorang.
“O, iya besok akan kukirim yang lebih bagus lagi ke rumahmu. Boleh kan?”
“Boleh! Evi seneng deh kalau kau main ke rumahku tapi jangan dihina ya! Dan sebelumnya terima kasih lho!” katanya sambil melipat kertas puisi itu tadi dan memasukkannya kedalam tas yang dipegangnya. 

Disini aku sempat menangkap perubahan wajahnya yang cantik itu. Mungkin setelah membaca puisi-puisiku ia mulai merasakannya. Lalu lama kami saling membisu. Sampai akhirnya tak terasa bel tanda bubar di sekolah kami berbunyi dan bersamaan dengan itu sebuah Corola warna merah jingga berhenti di halaman depan. Evi bangkit.
“Yuk pulang, kamu ikut?”
“Nanti deh lain waktu saja, aku kan mau urus basket ini dulu”
“Oke deh! Evi duluan ya, nanti datang lho! Jangan sampai nggak” aku mengangguk. Evi tersenyum manis sekali, sambil menuju ke mobil. Di dalam mobil ia melambaikan tangannya. Akupun membalasnya.
“Daaagg…..daaag”
“Daaaagg…..daaaag!!!”

Akhirnya deru mobil itupun meninggalkan halaman sekolah. Hanya terlihat debu berterbangan ditiup angin. Aku merasa bahagia sekali pada hari itu walaupun panasnya bukan main. Setelah kutemui Hendra, aku pergi bersamanya meninggalkan sekolah dan juga meninggalkan kenangan yang indah itu.

...........Selamat tinggal kenangan
kau muncul sekejap
membuat kuingat setiap saat
yang kini hasilnya menghasilkan kebahagiaan
kebahagian yang tak ternilai harganya
Aku katakan
bahwa kali ini aku merasa
benar-benar bahagia……..…
bahagia sekali……………………


Cerita Pendek karya : Edy Nawir
Cerpen-cerpen lainnya :
___________________________________________________
DESA RANGKAT  menawarkan kesederhanaan cinta untuk anda,  datang, bergabung  dan berinteraksilah bersama kami (Klik logo kami)
13013791301221151128